Jumat, 02 AGUSTUS 2024 • 13:55 WIB

Dampak Sistem Ekonomi Liberal terhadap Pribumi pada Masa Kolonial

Author

Masa kolonial di Medan.

INDOZONE.ID - Kondisi ekonomi pribumi di tengah ekonomi kapitalis pada masa kolonial, berada dalam situasi kompleks.

Kala itu, ada dua sistem ekonomi berbeda yang hidup berdampingan. Sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda mendominasi sehingga menimbulkan masalah rendahnya kapabilitas dan efektivitas pemerintahan daerah dalam mendorong perekonomian masyarakat pribumi. 

Ilustrasi tentara Belanda pada masa kolonial.

Hal ini menyebabkan keterpurukan ekonomi masyarakat Indonesia dan memicu perlawanan yang dapat melemahkan ekonomi kolonial. 

Petani garam juga terjerat dalam sistem ekonomi kapitalis karena produksi garam diarahkan untuk mencari keuntungan semata dengan mengabaikan nilai utilitas. Garam jadi komoditas yang dipasarkan untuk mencari nilai tukar.

BACA JUGA: Tropenmuseum: Museum Etnografi di Belanda yang Menyimpan Banyak Kekayaan Indonesia

Kondisi ekonomi pribumi pada masa kolonial menunjukkan dualisme ekonomi dan sosial. Sistem ekonomi kapitalis yang mendominasi sistem tradisional, menghasilkan dualisme tersebut. 

Sistem ekonomi kapitalis juga membatasi peran agama dalam kebijakan ekonomi, yang mendorong liberalisasi perdagangan dalam bentuk pasar bebas.

Meski perekonomian Indonesia juga tergantung pada sistem ekonomi internasional, perbedaan signifikan terletak pada konteks kemerdekaan politik dan sistem hukum demokratis, yang memberikan masyarakat pribumi kemampuan untuk menentukan masa depan mereka sendiri.

Para Perantara Sistem Ekonomi Liberal

Di masa kolonial, terdapat dua kelompok utama yang menjadi perantara dalam sistem ekonomi liberal, yaitu golongan liberal dan golongan humanis. 

BACA JUGA: Melihat Menara Air Tirtanadi, Heritage Kolonial Belanda yang Jadi Ikon Kota Medan

Golongan liberal mendukung pembebasan kegiatan ekonomi dari campur tangan negara atau pemerintah, sedangkan golongan humanis mendukung penghapusan sistem tanam paksa.

Pada 1870, dikeluarkan undang-undang agraria yang mengatur cara perolehan tanah oleh pengusaha swasta, serta undang-undang gula yang mengatur pemindahan perusahaan gula ke tangan swasta. 

Hal ini membantu mengurangi kekuatan sistem tanam paksa sebelumnya dan memberikan kemudahan bagi pemilik tanah swasta untuk mengembangkan bisnis mereka.

Selain itu, pemerintah kolonial juga mengatur pemindahan perusahaan gula ke tangan swasta, mengakhiri sistem tanam paksa dan menerapkan politik kolonial liberal yang mengurangi keterlibatan pemerintah dalam ekonomi.

BACA JUGA: Jadi Pusat Kerajaan Besar Tanah Pasundan, Bogor Diyakini Ada Sejak Abad ke 4 Masehi

Golongan liberal dan humanis berperan penting dalam mendorong perekonomian Indonesia menuju ekonomi liberal dengan menekankan kebebasan individu dalam pasar dan hak milik pribadi. 

Pada 1900-an, pemerintah kolonial melanjutkan dukungan terhadap ekonomi liberal, yang masih berlangsung hingga sekarang, memungkinkan pasar swasta untuk beroperasi lebih bebas tanpa kendali pemerintah.

Munculnya Monetisasi

Monetisasi adalah proses di mana uang digunakan sebagai media utama dalam sistem ekonomi suatu negara atau wilayah, memfasilitasi transaksi perdagangan, pembayaran, pertukaran barang serta jasa antarindividu, perusahaan, dan pemerintah. 

Hal ini melibatkan penggunaan mata uang sah sebagai alat tukar yang umum diterima dalam masyarakat.

BACA JUGA: Sejarah Singkat Kesawan Pecinan di Kota Medan hingga Jadi Destinasi Wisata

Di masa kolonial Hindia Belanda, monetisasi berkembang seiring dengan penerapan sistem ekonomi liberal yang mengizinkan investor asing dan lokal berpartisipasi dalam berbagai sektor ekonomi. 

Ini mengubah cara masyarakat melakukan transaksi ekonomi, dari sistem barter menjadi ketergantungan pada uang sebagai alat pertukaran utama. 

Dampak monetisasi dalam konteks ekonomi liberal kolonial adalah perubahan signifikan dalam pola ekonomi masyarakat. 

Ketergantungan pada uang mengakibatkan transformasi dalam interaksi ekonomi, dengan konsekuensi sosial seperti peningkatan kemiskinan, kejahatan, praktik perjudian, konsumsi candu, perilaku seks bebas, dan masalah utang piutang yang kompleks.

BACA JUGA: Penjara Kalisosok, Tempat Para Pahlawan Indonesia yang Membangkang dengan Aturan Belanda

Monetisasi juga mengubah pola ekspor dan impor, dengan ekspor didominasi oleh kebutuhan pokok dan industri. Akan tetapi, manfaatnya cenderung lebih menguntungkan bagi pemodal asing daripada masyarakat pribumi. 

Ini mencerminkan dinamika ekonomi pada masa kolonial di Hindia Belanda, saat monetisasi menjadi faktor penting yang mempengaruhi struktur ekonomi dan sosial masyarakat.


Banner Z Creators Undip

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Staff New UNY

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU