INDOZONE.ID - Institut Teknologi Bandung (ITB) batal buat membuka program pascasarjana Ekonomi Syariah berbasis digital yang kerjasama dengan Agung Sedayu dan Salim Group. Padahal beberapa hari sebelumnya, kedua pihak tersebut sudah membuat nota kesepahaman, kira-kira apa sih alasannya?.
Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi (WRKMAA) ITB A Rikrik Kusmara bilang kalau jadi langkah yang telah diputuskan sama universitas buat membatalkan rencana tersebut.
Ia menegaskan kalau kebijakan ini dengan mempertimbangkan dan memperhatikan masukan dari civitas akademika, alumni, hingga masyarakat sipil.
Baca juga: Kisah Putri Khasanah: Anak Penjual Asongan Lolos SNBP, Kuliah Gratis di UGM
"Maka ITB akan mengkaji ulang rencana kerja sama ini secara lebih komprehensif, selain aspek pendidikan juga mempertimbangkan isu sosial, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan," katanya.
Walaupun batal buat buka kampus di PIK 2, ITB tetap bakal mengembangkan program ekonomi syariah digital, yang katanya jadi program pertama di Indonesia. Ini juga jadi komitmen bagi ITB mendorong kemajuan bangsa dengan mengelola berbagai kampus di lokasi berbeda-beda.
"Dengan menggunakan fasilitas pendidikan yang telah tersedia di ITB Kampus Jakarta, Kampus Ganesha (Bandung), Kampus Jatinangor (Sumedang), atau Kampus Cirebon," ucapnya.
Baca juga: Mahasiswa UPI Sumedang Juara Pencak Silat di ASEAN, Buktikan Kualitas Pendidikan Kampus!
Rencana Buka Kampus di PIK 2
ITB berencana buat bangun kampus di PIK 2 pada tahun 2025 ini yang berlokasi di Menara Syariah. Menara ini memang didirikan buat menjadi salah satu pusat ekonomi dan bisnis syariah terbesar di Asia Tenggara. Lalu akhrinya ITB ditawarkan sebagai pengembangan disiplin ekonomi syariah berbasis digital.
"Sejak tahun 2024 Menara Syariah menginisiasi kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, dan pada tahun 2025 menawarkan kepada ITB. Keterlibatan kami dalam merespons inisiatif tersebut dilakukan dalam upaya meluaskan akses pendidikan, meningkatkan literasi, dan inklusi ekonomi serta keuangan syariah di Indonesia," ujar Rikrik.
Sebelumnya, ITB melalui Rektor Tatacipta Dirgantara telah menandatangi nota kesepahaman dengan Direktur Utama PT Kukuh Lestari Mandiri Letjen (Mar) Purn Nono Sampono, Senin (23/6/2025). Tapi, nota kesepahaman tersebut tuai protes khususnya dari kalangan mahasiswa dan alumni.
ITB menanggapi berbagai opini yang berkembang soal rencana pembukaan kampus di PIK 2. Pihak kampus akhirnya meminta permohonan maaf pada publik.
Baca juga: Kebutuhan Tenaga Apoteker di Indonesia Bertambah, UPH Perkenalkan Program Studi Baru
"Dengan kerendahan hati kami mohon maaf atas munculnya berbagai isu yang berkembang. Kami juga berterima kasih atas segala perhatian dari masyarakat dan alumni, yang menunjukkan kecintaan kepada ITB, sebagai institusi publik yang terus menjadi pilar penghela kemajuan bangsa. Mohon dukungan agar ITB dapat mengemban amanah pendiri bangsa menjalankan pendidikan unggul dan berdampak," kata Rikrik.
Berbagai protes dan kecaman ini muncul karena PIK 2 dianggap sebagai proyek bermasalah walaupun sempat sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).
Sementara itu, ITB adalah bagian institusi pendidikan yang harusnya mengedepankan moral dan nggak bisa ditunggangi kepentingan tertentu bukan kepentingan publik.
Penulis: Rifqy Alief Abiyya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA