INDOZONE.ID - Pernahkah kamu terpikir bahwa pakaian yang diproduksi massal, atau dikenal sebagai fast fashion, punya dampak buruk jangka panjang bagi bumi?
Fenomena ini masih sangat digemari, padahal bahayanya nyata.
Menyadari hal ini, mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) yang tergabung dalam Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) memberikan angin segar dengan mengenalkan konsep busana berkelanjutan sebagai jawaban atas kerusakan akibat fast fashion.
Dampak buruknya beragam, mulai dari pencemaran air oleh bahan kimia pewarna, penggunaan air berlebih untuk produksi serat kapas, hingga limbah pakaian yang sulit terurai.
Lalu, bagaimana solusinya?
Baca juga: Mahasiswa KKN Undip Sapa Warga Kaligawe di Malam 1 Suro, Bentuk Harmonisasi Budaya
Untuk menjawab tantangan tersebut, komunitas PMW UNAIR menggelar webinar yang menghadirkan Arry Budiawan SE, pendiri Ecoprint Bali, dengan tema “Level Up Green Activity: Ecoprint Canang Sari untuk Aksi, Bisnis, dan Alam Nusantara”.
Apa itu Slow Fashion?
Slow fashion mengacu pada praktik industri pakaian yang menekankan kualitas dan durabilitas produk, serta proses produksi yang lebih lambat dan beretika, berlawanan dengan fast fashion.
Adapun ecoprint merupakan salah-satu wujud nyata dari slow fashion.
Teknik ini menciptakan motif unik pada kain dengan memanfaatkan bahan-bahan organik seperti daun, bunga, atau batang yang meninggalkan jejak warna dan bentuk alaminya.
Pada prosesnya, slow fashion juga memberdayakan banyak pihak.
Baca juga: Bantu Jaga Bumi, Umsida Bikin Sistem Pendingin Mobil Ramah Lingkungan
“Dalam kegiatan yang membutuhkan jumlah orang banyak, kita bisa melibatkan tetangga terdekat. Ini menciptakan siklusnya sendiri dan sangat beretika. Di mana banyak perusahaan besar saat ini mulai mengurangi jumlah karyawannya, justru perusahaan kecil yang mendukung ekonomi Indonesia saat ini,” ucap Arry dalam webinar tersebut.
Manfaat Utama Slow Fashion
-
Kualitas Nomor Satu. Produk slow fashion dibuat untuk bertahan lama (long lasting), bukan untuk dibuang setelah mengalami kerusakan dini akibat bahan berkualitas rendah.
-
Menyelamatkan Bumi. Secara langsung, slow fashion mengurangi limbah tekstil, menghemat penggunaan air dan energi, serta menurunkan jejak karbon dari industri pakaian.
-
Memberdayakan Manusia. Model bisnis ini cenderung mendorong keterlibatan pengrajin dan komunitas lokal, sehingga menggerakkan siklus ekonomi yang adil dan beretika.
-
Mengurangi Konsumsi Impulsif. Dengan kualitas yang terjamin dan desain yang tak lekang waktu, produk ini mengurangi keinginan untuk belanja sesaat.
Baca juga: Mahasiswa KKN UPGRIS Ikut Upacara Susuk Wangan Pengambilan Air Suci untuk Merti Bumi Serasi Semarang
Pengenalan slow fashion oleh mahasiswa UNAIR ini menjadi sebuah pengingat penting.
Ini bukan lagi hanya tentang mode dan gaya, tetapi juga tentang tanggung jawab. Tentang bagaimana sebuah pilihan sederhana dapat memengaruhi lingkungan sekitar hingga berdampak pada kesehatan bumi.
Inisiatif mahasiswa UNAIR ini dapat menjadi langkah awal kita bersama untuk mulai merawat bumi dan mendukung sesama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Unair.ac.id, Unair.ac.id