Minggu, 03 AGUSTUS 2025 • 20:55 WIB

Dari Tenun Troso Menjadi Gaya Siap Pakai: Aira Collection Tumbuh dari Desa untuk Indonesia

Author

Mahasiswa KKN-T 23 UNDIP mengenakan koleksi busana tenun dari Aira Collection di kawasan tambak Desa Tedunan sebagai wujud dukungan terhadap UMKM lokal (Pramesti/Z Creators)

INDOZONE.ID - Siapa bilang fashion lokal kalah pamor? Dari sebuah desa kecil di pesisir Demak, lahir sebuah gerakan UMKM yang bukan cuma menjual busana tenun, tapi juga menghadirkan semangat pemberdayaan dan inovasi. Namanya Aira Collection.

Dari Buruh Tenun ke Brand Sendiri

Desa Tedunan, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, dikenal sebagai sentra buruh tenun. Banyak warganya bekerja secara rumahan untuk memproduksi kain yang nantinya dijual ke pengusaha besar, terutama dari Jepara. Tapi siapa sangka, dari desa ini juga muncul brand lokal yang membawa napas baru dalam industri fashion, Aira Collection.

Usaha ini didirikan oleh Eka Tauhida, seorang guru SMK sekaligus ibu rumah tangga, pada tahun 2018. Awalnya hanya iseng cari penghasilan tambahan, tapi langkah kecil itu berubah jadi lompatan besar. Bu Eka melihat potensi besar dari kain tenun yang ada di sekitarnya. “Di sini banyak yang tenun, kenapa nggak coba jual itu aja?” kenangnya.

Awalnya hanya menjual kain mentah ke teman dan kerabat, tapi karena banyak yang minta dijahitkan langsung, Bu Eka pun mulai merancang busana siap pakai berbahan tenun. Ternyata, inilah yang dibutuhkan pasar, praktis, unik, dan sarat makna lokal.

Baca juga: Dari Ibu Rumah Tangga Jadi Jutawan Seblak: Cerita Sukses Mbak Nopi di Ujung Gang Desa

Tenun Troso Bertemu Gaya Kekinian

Meski berasal dari Tedunan, tenun yang digunakan Aira Collection tetap didatangkan dari Troso, Jepara. Pasalnya, mayoritas warga Tedunan hanya menjadi buruh, belum memproduksi tenun secara mandiri.

Setiap koleksi diawali dengan riset motif dan model paling diminati. Sampel dikembangkan selama tiga minggu sebelum diproduksi secara massal. Uniknya, Aira Collection sempat mengirimkan produk ke beberapa artis ibu kota untuk endorsement, dan mendapat respons positif!

Produksi per minggu bisa mencapai 20 potong pakaian, dengan pengiriman ke berbagai daerah di Indonesia. Tak heran jika brand ini mulai dilirik karena desainnya kekinian, tapi tetap mengakar pada budaya lokal.

Bukan Cuma Bisnis, Tapi Pemberdayaan Nyata

Bu Eka, sosok di balik Aira Collection, bersama mahasiswa KKN-T 23 UNDIP di lokasi sebagai bentuk kolaborasi dalam pengembangan UMKM Desa Tedunan (Pramesti/Z Creators)

Yang bikin Aira Collection beda dari UMKM lain adalah dampaknya ke warga sekitar. Bu Eka nggak jalan sendiri, ia mengajak para ibu rumah tangga di Tedunan untuk ikut serta. Dari awalnya hanya satu penjahit, kini ada empat penjahit tetap, semua warga lokal yang sebelumnya belum punya pengalaman.

Mereka diberi pelatihan, pola, dan dibimbing langsung oleh Bu Eka. Bahkan limbah kain dari sisa produksi juga diolah jadi aksesori dan souvenir, jadi nggak ada yang terbuang sia-sia.

“Awalnya mereka takut salah, sekarang sudah bisa mandiri. Saya cuma ingin mereka juga berkembang,” kata Bu Eka. Sistem kerjanya pun berbasis saling percaya, lebih dari sekadar transaksi, ini soal tumbuh bersama.

Didukung Pemerintah, Dikenal Lebih Luas

Aira Collection sempat mendapatkan dukungan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 2021. Bahkan jadi satu-satunya UMKM berbasis tenun di Demak yang tercatat resmi. Sebagian besar UMKM di sana masih fokus pada batik.

Penjualan dilakukan lewat berbagai kanal, mulai dari event UMKM Demak, WhatsApp, hingga TikTok (@yuboss). Harganya pun terjangkau, mulai dari Rp50.000 hingga Rp500.000, tergantung bahan dan tingkat kerumitan desain. Produk couple jadi yang paling laris karena desainnya serasi, nyaman, dan tetap stylish.

Visi Jangka Panjang, Edukasi dan Kolaborasi

Meski kini usaha dikelola oleh sang suami karena kesibukannya mengajar, Bu Eka tetap menjadi motor penggerak di balik visi Aira Collection. Ia masih terlibat dalam pemilihan motif, pengembangan desain, hingga strategi pemasaran.

“Sekarang nggak bisa jualan pakai cara lama. Harus ikut zaman. Tapi yang penting, produk kita harus ada maknanya,” ujarnya mantap.

Ke depan, ia berencana menjalin kolaborasi dengan desainer muda dan memperluas pemasaran ke marketplace besar. Ia ingin Aira Collection jadi tempat belajar bagi generasi muda, bukan cuma untuk menjahit, tapi juga untuk memahami arti penting budaya dan ekonomi lokal.

Baca juga: Sehari Penuh Inovasi, Mahasiswa KKN-T IDBU 23 UNDIP Sulap Udang dan Limbah Keong Jadi Produk Bernilai Jual di Desa Tedunan!

Tenun Bukan Sekadar Kain

Setiap helai kain dari Aira Collection bukan hanya busana, tapi juga cerita tentang perjuangan, inovasi, dan semangat desa. Dari Tedunan untuk Indonesia, sebuah gerakan kecil yang mampu menciptakan dampak besar.

Kamu bisa mendukung produk lokal ini langsung di RT 01 RW 02, Desa Tedunan, Kecamatan Wedung, Demak, atau lewat toko online mereka di TikTok: @yuboss.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU