INDOZONE.ID - Plagiasi dalam dunia akademik memang penting banget buat jadi perhatian. Tindakan ini bukan cuma menjiplak, tapi juga tidak menghargai karya orang lain.
Teknik parafrase memang menjadi alternatif buat mengutip sumber lain ke dalam penelitian kita. Namun, seringkali masih tetap kena plagiasi saat dicek melalui turnitin.
Dari seluruh bab dalam penelitian, bab 2 jadi salah satu yang paling sering terkena plagiasi. Pada bab ini, kamu akan menjelaskan terkait tinjauan pustaka dari penelitian sebelumnya.
Selain itu, di bab ini juga akan menjelaskan mengenai teori yang digunakan.
Baca juga: Bantu Navigasi, Mahasiswa KKN UMM Pasang Plang Arah Jalan di Desa Tawing
Alasan Sering Terkena Plagiasi Bab 2
1. Terlalu Banyak Sumber yang Digunakan
Tinjauan pustaka dan landasan teori menjadi dasar dari penelitian yang kamu gunakan. Sebab itulah, banyak mahasiswa mengutip berbagai sumber secara langsung tanpa melakukan memparafrase.
2. Kurang Paham Tentang Parafrase
Banyak orang menilai dengan ganti beberapa kata saja, sudah dianggap parafrase. Padahal, kamu juga harus memperhatikan struktur kalimat, yang harus diubah supaya tidak dinilai plagiat.
3. Lupa atau Salah Sitasi
Saat kamu lupa atau salah menulis pada sumber yang dikutip, itu juga bisa dinilai plagiasi. Selain itu, tulisan sitasi yang salah atau tidak sesuai standar seperti APA, MLA, IEE, dan lainnya bisa kena plagiasi juga.
Baca juga: Mahasiswa KKN-T IDBU 23 UNDIP Terapkan 5S dan K3, UMKM Desa Tedunan Kini Lebih Efisien dan Sehat!
Cara Menghindari Plagiasi Pada Bab 2
1. Pahami Isi Sebelum Menulis Ulang
Hal yang wajib banget dipahami sebelum parafrase adalah memahami isi atau konteks dari sumber. Jangan sampai menyalin kutipan dari sumber lain tanpa memahami isi. Satu cara yang bisa dilakukan, yaitu baca sumbernya, tutup teksnya, lalu jelaskan kembali dengan bahasa sendiri.
Contoh:
Teks awal: Brand awareness berperan penting dalam meningkatkan loyalitas pelanggan karena cenderung memilih produk yang sudah mereka kenal.
Teks parafrase: semakin dikenal suatu merek, semakin besar kemungkinan pelanggan untuk memilihnya kembali karena faktor kenyamanan dan kepercayaan.
Baca juga: Lewat Website dan Sosial Media, Mahasiswa Undip Bangun Digital Branding Batik Arum Cempaka
2. Gunakan Teknik Parafrase yang Benar
Memahami teknik parafrase itu penting banget. Jangan cuma asal ganti satu atau dua kata saja. Kamu bisa menggunakan sudut pandang lain, seperti dari kalimat aktif menjadi kalimat pasif. Selain itu, kamu bisa pecah atau gabungkan ide agar lebih terlihat natural.
Contoh:
Teks awal: media sosial memerankan peran penting dalam meningkatkan kesadaran merek.
Teks parafrase: kesadaran merek dapat meningkat dengan adanya peran dari sosial media.
Baca juga: Pujasera Tulus Harapan Kini Punya Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat
3. Wajib Cantumkan Sumber Referensi
Kalau kamu mengutip sumber dari penelitian lain, wajib banget hukumnya untuk dicantumkan. Perhatikan sumber referensi tersebut sesuai dengan format, jangan sampai salah tulis.
Contoh:
Salah: Menurut penelitian, media sosial berpengaruh terhadap keputusan pembelian. (tanpa sumber).
Benar: Menurut Kotler (2020), media sosial berperan dalam membentuk keputusan pembelian konsumen.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@helpin.official