INDOZONE.ID - Berani bermimpi itu penting, tetapi berani mengeksekusi mimpi jauh lebih menentukan. Itulah yang membentuk perjalanan dr. Nadhira Nuraini Afifa lewat LPDP. Nadhira berhasil berdiri sebagai pembicara di panggung wisuda Harvard University.
Nadhira menjadi bukti kalau mahasiswa Indonesia bisa menembus panggung dunia dengan kerja keras, strategi, dan keberanian.
Baca juga: Mahasiswi China Cetak Sejarah di Harvard, Sampaikan Pesan Persatuan Global dalam Wisuda
Dari UI, LPDP, hingga Harvard
Nadhira menamatkan pendidikan dokter di UI sebelum melanjutkan studi magister di Harvard lewat beasiswa LPDP.
Kesempatan ini gak hanya kayak tiket finansial, tapi validasi bahwa gagasan, esai, dan rencana studinya solid. Perjalanan menuju Harvard penuh persiapan.
Mulai dari riset program studi, menyusun study plan, merapikan CV, mengumpulkan rekomendasi, hingga menanti hasil seleksi dengan sabar.
Di balik sorotan publik yang hanya melihat momen wisuda, ada proses panjang yang membuktikan konsistensi dan keberanian untuk melangkah.
Tantangan Adaptasi di Negeri Orang
Setibanya di Amerika, perjalanan Nadhira tentunya gak selalu mulus. Identitasnya sebagai perempuan Muslim dan mahasiswa internasional menghadirkan tantangan adaptasi,
tapi ia menemukan ritme hidup yang seimbang.
Hal-hal sederhana seperti keberadaan musala, komunitas yang suportif, serta disiplin belajar menjadi jangkar yang menjaga stabilitas mental sekaligus produktivitas akademik.
Dari sana, tugas terselesaikan, jejaring terbentuk, dan rasa percaya diri tumbuh perlahan namun pasti.
Filosofi Limitless: Berani, Konsisten, Adaptif
Pondasi mentalnya udah dibangun sejak dini oleh keluarga, terutama pesan sang ibu bahwa anak dari keluarga sederhana pun berhak punya cita-cita tinggi.
Filosofi itu kemudian ia tuangkan dalam buku Limitless. Pesannya jelas: berani mengklaim mimpi, tidak takut gagal, dan berani keluar dari zona nyaman dengan ritme yang terukur.
Baginya, kegagalan bukan akhir, melainkan data untuk perbaikan. Strategi ini membuatnya terus melangkah, dari mengirim abstrak ke konferensi hingga mencoba riset lintas disiplin.
Menjadi Inspirasi
Persiapan beasiswa dan studi luar negeri bisa dimulai dari hal sederhana. Yaitu audit diri, kenali kekuatan dan kelemahan, susun personal statement yang jujur sekaligus strategis, dan bangun jejaring akademik.
Manajemen waktu, manajemen energi, serta kebiasaan menulis juga menjadi modal penting. Semua itu keliatan teknis, tetapi justru menjadi pijakan nyata untuk menembus kesempatan global.
Baca juga: Kuota LPDP 2025 Dibatasi: Hanya 4 Ribu Awardee, Peluang Tipis Tapi Masih Bisa Dicoba
Momen puncak hadir ketika Nadhira dipercaya menjadi pembicara wisuda Harvard. Itu bukan sekadar prestasi pribadi, melainkan representasi mahasiswa Indonesia di mata dunia.
Nah, langkah pertama apa yang akan kamu mulai untuk mendekat ke panggung impianmu?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@kampunginggrism