Rabu, 24 SEPTEMBER 2025 • 12:03 WIB

Tim Mahasiswa UNY Ciptakan SmartCleaner, Pembersih Kandang Sapi Bertenaga Surya

Author

Tiga anggota tim PKM-PI (uny.ac.id)

INDOZONE.ID - Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) kembali membuat inovasi sebagai kontribusi nyata untuk masyarakat.

Kali ini, tim mahasiswa UNY mengembangkan inovasi ‘SmartCleaner: Inovasi Sistem Pembersih Bertenaga Surya dan Monitoring Amonia’. Alat ini digunakan untuk membantu kelompok tani ngudi makmur di Desa Gunung Manuk, Kecamatan Patuk, Gunungkidul.

Mereka menghadirkan ini melalui Program Kreativitas Mahasiswa - Penerapan IPTEK (PKM-PI). 

Baca juga: Kota Hujan Siap Diguncang! Agrisymphony 2025 Segera Hadir Meriahkan Dies Natalis IPB University Ke-62

Atasi Masalah Klasik Peternak

Inovasi hadir karena kepedulian dengan masalah klasik peternak sapi, dimana kandang yang sulit dibersihkan secara menyeluruh dan rutin. Selain itu, tingginya kadar gas amonia juga bisa membahayakan kesehatan ternak. 

Tim mahasiswa UNY terdiri dari Veri Saputra (Pendidikan Teknik Elektro), Shafa Feby Ayuningtyas (Pendidikan Teknik Elektro), dan Anida Syafa Hapsari (Biologi).

Baca juga: Kisah Dr. Nadhira Nuraini Afifa, Dari Depok ke Podium Wisuda Harvard

Mereka terjun ke lapangan untuk berdiskusi dengan para peternak. Hasilnya adalah kandang hanya dibersihkan tiga sampai empat kali seminggu, karena keterbatasan waktu dan tenaga. Hal ini membuat kotoran menumpuk dan gas amonia meningkat.

Akibatnya, ini bisa berdampak ke kesehatan sapi, membuat bobot ternak merosot, dan bisa mengakibatkan harga jual merosot. Kerugian yang diakibatkan bisa mencapai Rp400 juta per siklus. 

Gambar kandang sapi (uny.ac.id)

Fitur-fitur SmartCleaner

SmartCleaner merupakan inovasi yang menggabungkan antara teknologi Internet of Things (IoT) dan energi terbarukan. Alat ini dirakit di Bengkel Elektro FT UNY, dengan menggabungkan banyak komponen. 

Energi utamanya menggunakan panel surya, sehingga ramah lingkungan. Tenaga listrik panel ini juga bisa menggerakan motor listrik dan penggaruk otomatis. Dengan cara ini, alat bisa bekerja sesuai jadwal lewat modul Real-Time Clock (RTC).

Selain itu, terdapat sensor amonia MQ-137 buat mendeteksi gas berbahaya. Jika kadarnya lewat dari batas, kipas exhaust otomatis aktif dan memberikan notifikasi ke smartphone peternak lewat aplikasi IoT.

Baca juga: Deg-degan Berbuah Haru, Mahasiswa Ini Lulus Sidang Skripsi Usai Dua Kali Gagal

Semua info mengenai jadwal pembersihan, kondisi kandang, bahkan kadar amonia bisa dipantau real-time. Kotoran sapi pun akan dialirkan ke tempat khusus, sehingga bisa diolah menjadi pupuk organik.

Hasil percobaan dari SmartCleaner terbukti bisa berdampak signifikan. Sebelumnya, membersihkan kandang memerlukan waktu 1-2 jam, sementara saat ini hanya 15 menit per hari. 

Sementara itu, pupuk dari limbah ini bakal dipasarkan secara lokal, sehingga bisa memberikan tambahan pendapatan. Jadi inovasi ini bukan sekadar teknologi, tapi bisa menyentuh aspek ekonomi sirkular.

Baca juga: Kisah Inspiratif Wisuda, dari Keterbatasan Jadi Inovasi Kehidupan

Digunakan Secara Luas ke Berbagai Daerah

Ketua tim, Veri Saputra mengungkapkan harapannya agar inovasi ini bisa memperluas penggunaannya ke berbagai daerah lain.

“SmartCleaner tidak hanya membantu kelompok tani Ngudi Makmur, tetapi juga dapat menjadi model penerapan teknologi terbarukan dan IoT di sektor peternakan rakyat Indonesia. Harapan kami, kesejahteraan peternak meningkat, lingkungan lebih sehat, dan ketahanan pangan nasional semakin kuat,” jelasnya.

Baca juga: Mahasiswa IPB Teliti Kualitas Air Danau LSI, Jadikan Alam ‘Laboratorium Hidup’

Salah satu anggota, Shafa Feby menyebut bahwa sistem monitoring yang berbasis di smartphone bakal terus dikembangkan agar lebih ramah pengguna.

Lewat inovasi ini, kembali menegaskan bahwa inovasi teknologi tidak hanya berhenti di laboratorium. Akan tetapi, bisa hadir dan berkontribusi nyata kepada masyarakat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Uny.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU