INDOZONE.ID - Pernahkah kamu merasa dunia perkuliahan seperti naik rollercoaster? Ada saatnya di atas angin, tapi juga terkadang di bawah. Bagi banyak mahasiswa, tekanan akademik, pencarian identitas, dan godaan kebebasan sering jadi tantangan besar.
Nggak jarang masa kuliah jadi fase naik turun mahasiswa demi mencari jati diri. Inilah kisah Evan Haydar, HR Tesla asli Gresik yang buktikan bahwa masa lalu yang "bandel" bukanlah penentu masa depan yang suram.
Masa SMA yang Jauh dari Kata Cemerlang
Lahir di Gresik, Jawa Timur, sejak kecil Evan kaya ide dan kreatif. Tapi kelebihannya tidak tersalurkan dengan baik di sekolah. Masa SMA-nya dikenal nakal, sering keluar masuk ruang Bimbingan Konseling (BK), dan ranking kelas yang selalu di jajaran bawah kelas.
Ketika teman-temannya sibuk memilih jurusan dan universitas impian, Evan hanya mengangkat bahu. Hal yang sering dihadapi para calon mahasiswa: punya potensi besar, tapi bingung harus memulai dari mana.
Baca juga: Kisah Dr. Hema Sane: Botanist Pengajar di Kampus Abasaheb Garware College yang Hidup Tanpa Listrik
Titik balik pertamanya hampiri dirinya saat mendengar kabar bahwa kuliah di Jerman bisa gratis. Ini memberinya satu tujuan baru dalam hidup.
Kebebasan Mahasiswa di Negeri Asing: Ujian Keras Sebelum Kuliah
Berangkat ke Berlin tidak berjalan mulus, biaya berangkatnya diusahakan sang ayah hingga harus berhutang. Sayangnya hal pertama ia rasakan adalah kebebasan: jauh dari pengawasan orang tua dan tak ada yang mengatur.
Tapi justru kebebasan yang ia rasakan jadi pedang bermata dua baginya. Sebelum resmi masuk HTW Berlin, Evan diterpa kenyataan keras di 'dunia nyata'.
Baca juga: Kisah Inspiratif Wisuda, dari Keterbatasan Jadi Inovasi Kehidupan
Ia harus berjuang menjalani berbagai pekerjaan serabutan mulai dari pabrik kertas, menjaga booth di stasiun, hingga menjadi cook di restoran cepat saji untuk penuhi kebutuhan dan kehidupan di negeri orang. Gaji kecil, pulang larut malam, dan tubuh yang cepat lelah jadi beban yang dipikul setiap harinya.
Ditambah pergaulan yang salah menyeretnya ke titik terendah: depresi. Inilah momen krusial bagi Evan. Dari berlarut berbulan-bulan di lubang depresi, ia menyadari: masalahnya bukan di dunia yang keras, tapi pada cara ia menjalani hidupnya.
Baca juga: Kisah Ana Victoria, Mahasiswi Down Syndrome Cantik Pertama di Dunia yang Jadi Pengacara
Bangkit dan Transformasi Diri: Mahasiswa yang Haus Perbaikan
Evan membuat keputusan paling ekstrem: membenahi diri total. Ia meninggalkan kebiasaan buruk, mulai rutin gym, makan sehat, dan yang terpenting: mendalami self-development.khususnya cara berpikir dan mindset.
Rasa haus untuk menjadi versi terbaik dirinya menjadi bahan bakar terkuat. Ia membuktikan bahwa perbaikan diri adalah investasi terbaik.
Ia kemudian menapaki jalur perkuliahan dan diterima di jurusan International Business di HTW Berlin. Dari sini ia mematahkan mitos bahwa nilai SMA yang buruk akan menghancurkan masa depan.
Baca juga: Kisah Atha Gusanto, Bukti Nyata: Mimpi Besar Bisa Lahir dari Keluarga Sederhana
Evan menunjukkan bahwa tekad kuat dan skill yang terasah jauh lebih berharga daripada sekadar angka di rapor. Skill seperti bahasa asing dan kemampuan beradaptasi yang ia dapatkan selama kerja serabutan justru menjadi modal utamanya.
Dari Part-Time Job Kampus ke Puncak Karier Global
Saat menjalani perkuliahan, Evan tidak berhenti kerja paruh waktu. Di semester kedua, ia berhasil mendapatkan part-time job pertamanya yang cocok di Samsung Next.
Selang setahun ia kemudian berlanjut ke kerja paruh waktu di bagian recruiting. Posisi ini membuka gerbang menuju dunia Human Resources (HR), sebuah bidang yang membawanya jauh melampaui ekspektasinya di kemudian hari.
Baca juga: Inspiratif! Kisah Mahasiswi Papua Selesaikan Skripsi Cuma Pakai Handphone
Hingga akhirnya ia mencapai titik bekerja di perusahaan otomotif ternama, Tesla, sebagai HR Ops Specialist.
Dari kebingungan memilih arah hidup, tekanan akademik, sampai rasa ingin bebas tapi harus bertanggung jawab. Kisahnya jadi sebuah pengingat bahwa kegagalan, kebandelan, atau kehilangan arah bukan akhir melainkan refleksi, perbaikan diri, dan tekad untuk bangkit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@evanhaydar