Senin, 29 SEPTEMBER 2025 • 15:54 WIB

Bukan Buang Waktu! Ini 5 Alasan Harvard Dukung 'Gap Year', Bahkan Jadi Opsi yang Dianjurkan

Author

Harvard University (Instagram/@harvard)

INDOZONE.ID - Siapa yang pernah minder dan merasa tertinggal saat ambil gap year? Atau merasa tertekan secara akademik, tapi takut ketinggalan sehingga memaksakan diri lanjut kuliah padahal belum siap?

Di Indonesia, gap year masih sering dipandang sebelah mata karena dianggap buang waktu. Padahal, gap year berarti periode jeda setelah lulus SMA sebelum masuk kuliah. Alasannya beragam, mulai dari istirahat, eksplorasi minat, hingga persiapan mental dan akademik.

Baca juga: Lulus SMA Bingung? Begini Cara Memilih Antara PTN, Jurusan, atau Gap Year

Nah, berikut 5 fakta tentang gap year di Harvard yang bisa jadi bahan pertimbangan kamu.

5 Alasan Harvard Dukung Gap Year Bahkan Jadi Opsi yang Dianjurkan

1. Opsi Gap Year Dianjurkan

Dikutip dari situs resmi Harvard, kampus ini justru mendorong mahasiswanya ambil gap year jika merasa butuh waktu. Setiap tahun, sekitar 90-130 mahasiswa baru mengajukan penundaan perkuliahan.

Baca juga: Universitas Indonesia Buka Program Pre-University 2025 buat Siswa SMA dan Gap Year

Harvard menilai ini sebagai proses mahasiswa mencari pengalaman baru, membawa perspektif segar, sekaligus mempersiapkan diri lebih matang menghadapi kuliah.

2. Ada Proses dan Kebijakan Jelas

Di Harvard, opsi ini sudah diatur jelas dalam kebijakannya. Mahasiswa yang diterima bisa memilih “I defer” untuk menunda masuk kuliah, tapi dilarang mendaftar di kampus lain selama gap year.

Namun, mereka boleh ikut kursus, kegiatan nonformal, proyek wajib militer, atau alasan keagamaan. Bahkan, Harvard bisa memberikan izin penundaan lebih dari setahun jika ada pertimbangan khusus.

Baca juga: 5 Penyesalan yang Sering Terjadi Pada Pejuang PTN Gap Year: Gak Belajar Serius

3. Manfaat Lebih Besar daripada Kekhawatiran

Banyak yang khawatir kehilangan momentum akademik, tapi nyatanya Harvard menemukan sebaliknya. Mahasiswa yang ambil gap year justru kembali lebih segar, siap secara mental, dan lebih jelas arahnya secara akademik.

4. Aktivitas Gap Year Bervariasi

Mahasiswa Harvard memanfaatkan waktu gap year dengan cara berbeda-beda. Ada yang ikut proyek sosial, magang, riset, traveling, hingga kerja paruh waktu.

Baca juga: Strategi Jitu Hadapi Pertanyaan Jebakan HRD saat Ditanya Aktivitas Selama Menganggur

Ada juga yang membagi waktunya, misalnya setengah tahun pertama untuk eksplorasi dan setengah tahun berikutnya untuk persiapan kuliah.

5. Dasar Filosofi: Cegah Burnout

Alasan utama Harvard memberi opsi gap year adalah mencegah burnout. Tekanan akademik bertahun-tahun dikhawatirkan menguras energi dan mental siswa.

Dengan gap year, diharapkan mahasiswa bisa kembali lebih fresh, fokus, dan punya pandangan hidup lebih jelas.

Baca juga: Waspada Ilusi Toxic Positivity di Lingkungan Kampus, Ketika Motivasi Menjadi Racun Mahasiswa

Gap year bukan berarti stuck di satu tempat, tapi kesempatan berkembang di luar kelas lewat pengalaman hidup. Jadi, jangan minder kalau kamu pertimbangkan gap year.

Asal kegiatanmu positif dan waktumu dimanfaatkan sebaik mungkin, gap year bisa jadi cara memperkaya diri sekaligus mempersiapkan kuliah seperti yang diharapkan Harvard.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Harvard College

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU