Selasa, 14 OKTOBER 2025 • 17:47 WIB

Pemred Indozone Tegaskan Profesi Jurnalis Akan Terus Hidup di Era AI

Author

Kegiatan kuliah umum UINJakarta hari ini Selasa (14/10/25) (INDOZONE/Sufaira Thoibah)

INDOZONE.ID - Profesi jurnalis begitu membanggakan. Berdiri di sisi kebenaran dan idealisme, jurnalis dikenal memiliki dedikasi tinggi terhadap profesinya.

Namun, melihat keadaan sekarang, banyak wartawan, reporter, hingga perusahaan media yang terkena badai hingga melakukan PHK. Pertanyaan besar pun muncul, "Apakah profesi ini masih menjanjikan?"

Baca juga: CEO Indozone Ungkap Strategi Bisnis Media di Era AI di Hadapan Mahasiswa UIN Jakarta

Kekhawatiran generasi muda inilah yang menjadi fokus utama pembahasan Fahmy Fotaleno, Pemimpin Redaksi INDOZONE, dalam kuliah umum bertema “Bisnis Media di Era Digital: Strategi Bisnis dan Realitas Fenomenologi” di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (14/10/2025).

Kegiatan yang digelar di Ruang Teater Lantai 2 Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) ini, menghadirkan pakar ilmu komunikasi sekaligus Guru Besar Universitas Padjadjaran (Unpad) Prof. Engkus Kuswarno, M.S., serta dua pembicara yaitu Riel Tasmaya, CEO Indozone, dan Fahmy Fotaleno.

Baca juga: Pimred Indozone Soroti Tantangan Media di Era Sosmed dan AI di Depan Mahasiswa Universitas Moestopo

Riel Tasmaya dan Fahmy Fotaleno berbagi pandangannya mengenai tantangan media masa kini dari perspektif akademisi hingga praktisi.

Fahmy Fotaleno, Pemimpin Redaksi Indozone Media (INDOZONE/Sufaira Thoibah)

Fenomena yang dihadapi industri media saat ini, memang tidak mudah. Fahmy Fotaleno, dalam pemaparannya, mengutip data Dewan Pers bahwa dari total PHK di industri media, sekitar 80 - 85 persen adalah wartawan.

Banyak jurnalis banting setir menjadi dosen, PR, hingga pengusaha karena merasa profesi ini tak lagi stabil secara finansial.

Baca juga: Pemred Indozone Kupas Tantangan Jurnalisme AI di Indonesia Punya Kamu Goes to Campus Trisakti

Perilaku audiens yang kini lebih berorientasi pada TikTok atau Instagram, ketimbang portal berita atau media konvensional, seperti koran, televisi, dan radio, juga mendorong media untuk bertransformasi.

Media konvensional harus beradaptasi ke format digital dan multiplatform. Kalau dalam tiga detik tulisan kita tidak bisa memberi impresi, pembaca akan langsung scroll next,” ujar Fahmy Fotaleno.

Namun, dilema ini makin kompleks dengan hadirnya AI (Artificial Intelligence). Apakah AI menjadi ancaman atau justru membantu? Kehadiran AI memang memberi banyak kemudahan, tapi di sisi lain, pekerjaan jurnalis juga menjadi lebih mudah digantikan.

Baca juga: Perkuat Kolaborasi, Program Studi Digital Content Broadcasting Telkom University Kunjungi Media Termasuk INDOZONE

Banyak media dan pengguna AI yang memanfaatkan berbagai tools, bahkan menyebut hasilnya sebagai karya jurnalistik.

Banyak orang merasa sudah bisa menulis dengan AI, lalu menganggap itu karya jurnalistik. Tapi bagaimana mungkin mesin yang tidak punya empati bisa disebut jurnalis?” tegas Fahmy Fotaleno.

Ia menekankan, bahwa AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti. Teknologi ini bisa digunakan untuk riset, mencari ide, atau koreksi bahasa, bukan untuk menggantikan proses berpikir dan menulis manusia.

Baca juga: Indozone dan FIB Undip Perpanjang Kerja Sama hingga 2026, Mahasiswa Dapat Banyak Keuntungan!

Setiap jurnalis memiliki gaya dan karakter tulisan. Hal ini hilang jika semua tulisan hasil AI. Kalau mau pakai AI, gunakan otak manusia dulu, baru mesin,” tambahnya.

Di akhir sesi, Fahmy Fotaleno menyerukan, meski profesi jurnalis menghadapi banyak tantangan, jurnalistik masih hidup dan tetap penting. Baginya, teknologi justru bisa menjadi katalis untuk mengembangkan profesi ini jika tetap menjunjung etika dan moral jurnalistik.

Baca juga: Mahasiswa Perlu Tahu Perkembangan Industri Media Saat Ini, Unisba Berharap Kerja Sama dengan Indozone Terus Berlanjut

Gunakan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti. Profesi ini akan tetap bermartabat jika dijalankan dengan empati dan tanggung jawab,” pesannya kepada calon jurnalis muda UIN.

Lewat kuliah umum ini, mahasiswa diajak melihat bahwa di balik canggihnya AI, jurnalis tetap punya peran tak tergantikan, yaitu empati dan rasa kemanusiaan dalam setiap cerita.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU