Kamis, 23 OKTOBER 2025 • 13:08 WIB

Mahasiswa UNAIR Ciptakan AIRMON, Alat Pendeteksi Gas Polutan Berbahaya Berbasis IoT

Author

Eka Rachma Aprilidanti dan AIRMON (unair.ac.id)

INDOZONE.ID - Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) ciptakan alat pendeteksi gas polutan berbahaya yang berbasis Internet of Things.

Pencipta alat tersebut adalah Eka Rachma Aprilidanti, mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol (TRIK), Fakultas Vokasi. 

Eka terpilih sebagai finalis Pilmapres Nasional tahun 2025 dengan menciptakan AIRMON (Air Monitoring System). Alat ini bisa mendeteksi gas polutan berbahaya berbasis Internet of Things (IoT). 

Baca juga: 5 Kampus Terbaik di Indonesia Versi EduRank, Mana yang Jadi Impianmu?

Berawal dari Keresahan

Inovasi ini berawal dari keresahan karena tingginya kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) di Jawa Timur (Jatim), bahkan mencapai 130.683 kasus di 2023. Eka menciptakan AIRMON untuk pemantauan udara di kawasan sekitar industri tersebut.

“Teknologi ini saya rancang bukan hanya untuk mendeteksi. Tapi juga sebagai langkah mitigasi awal agar masyarakat lebih waspada terhadap bahaya polusi udara,” jelas Eka.

Alat ini mampu mendeteksi parameter gas toksik, seperti karbon monoksida (CO), amonia (NH₃), nitrogen dioksida (NO₂), metana (CH₄), etanol (C₂H₅OH), dan hidrogen (H₂) secara real-time.

“Melalui platform digital yang terintegrasi dengan sistem early warning alarm, AIRMON ini nantinya akan mengirimkan peringatan dini ketika kadar gas berbahaya melebihi batas aman,” jelas Eka.

Baca juga: 7 Alasan Kenapa Mahasiswa Sering Kehilangan Arah dan Tips untuk Menemukannya lagi!

Penghargaan dan Hak Cipta

Alat ini sudah dapat penghargaan lebih dari 30, baik secara nasional maupun internasional. Selain itu, tiga hak cipta dan satu paten sedang dalam proses. Eka optimis bahwa AIRMON bisa jadi alat untuk pemantauan yang terintegrasi secara nasional.

Ia juga berharap adanya dukungan dari pemerintah atau pemangku kebijakan, seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup, hingga Kementerian Hukum dan HAM.

Baca juga: Kementerian ESDM Gandeng Empat Kampus Tambang Terbaik Indonesia untuk Kegiatan Eskplorasi

Harapan ke Depannya

Eka menyebut, beberapa daerah yang punya tingkat polusi tinggi seperti Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan, dan berharap bisa diterapkan di wilayah tersebut.

“Ke depan, saya sangat berharap AIRMON bisa mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Dukungan itu penting. Terutama dalam hal legalitas, uji standar nasional (SNI), dan perluasan implementasinya di lapangan agar alat ini benar-benar bisa termanfaatkan secara luas oleh masyarakat,” pungkas Eka.

Baca juga: Kemendikdasmen Siapin Beasiswa Buat 150 ribu Guru yang Belum Punya Gelar D4 atau S1

Dengan inovasi yang diciptakan, Eka bakal mengikuti rangkaian pemilihan Mahasiswa Berprestasi Nasional (Pilmapres) 2025 di Universitas Diponegoro pada 24-25 Oktober. Ia bakal bersaing dengan mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Unair.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU