Kamis, 23 OKTOBER 2025 • 12:05 WIB

Dari Cibiran Jadi Capaian: Kisah Umar Syahroni, Lulusan S2 Tercepat UNAIR, Kini Raih Beasiswa S3 ke Sydney

Author

Umar Syahroni alumni Universitas Airlangga (UNAIR). (Instagram/@umarsyaroni)

INDOZONE.ID - Kisah Inspiratif Umar Syahroni alumni Universitas Airlangga (UNAIR) yang pernah diremehkan, ditolak masuk sekolah dasar, dan dianggap gak mampu berbuat apa-apa hanya karena terlahir sebagai penyandang tunadaksa. 

Tapi Umar membuktikan kalau keterbatasan fisik bukanlah batas untuk bermimpi besar. Bagi sebagian orang, cibiran mungkin menghentikan langkah. 

Baca juga: Dari Bengkel Tambal Ban ke Panggung Wisuda: Kisah Alfian, Wisudawan Tunanetra Pertama Unair yang Raih Gelar S2

Tapi bagi Umar, semua itu justru jadi bahan bakar untuk menembus batas yang tak semua orang berani hadapi.

Dari Penolakan ke Panggung Akademik

Semasa kecil Umar harus berjuang keras hanya untuk mendapatkan hak belajar yang seharusnya dimiliki semua anak. 

Langkah-langkah kecil yang dulu penuh ragu, kini telah berubah menjadi lompatan setelah umar berhasil menyelesaikan pendidikan magister, di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (UNAIR) dengan predikat lulusan S2 tercepat. 

Sebuah capaian yang tidak hanya mencatatkan nama, tetapi juga semangat ketangguhan di dunia akademik.

Melangkah ke Sydney: Bukti Tekad yang Kuat dan Membangun Gerakan Bersama Difabel

Gak berhenti di podium kelulusan, Umar kini tengah menapaki jenjang pendidikan doktoral (S3) di University of Sydney, Australia, melalui Beasiswa Afirmasi Disabilitas LPDP. Dengan semangatnya, Umar menepis stigma kalau keterbatasan fisik berarti keterbatasan mimpi.

Yang membuat kisah Umar semakin menginspirasi adalah kepeduliannya terhadap sesama. Melalui advokasinya di Rumah Disabilitas Pusat, ia aktif memberikan edukasi, motivasi, dan pendampingan bagi penyandang disabilitas lainnya.

Bersama timnya, ia telah membantu lebih dari 10 difabel untuk mendapatkan beasiswa LPDP dan melanjutkan pendidikan tinggi. 

Baca juga: Kisah Inspiratif Belinda, Mahasiswa yang Lawan Kanker Sambil Selesaikan Skripsi

Dengan pendekatan yang hangat dan berbasis empati, Umar membuktikan kalau kesuksesan sejati bukan tentang seberapa tinggi kita naik, tapi seberapa banyak tangan yang kita ajak naik bersama.

Umar menunjukkan kalau perjuangan dan kepercayaan pada diri sendiri bisa menaklukkan keterbatasan apa pun. Nah, kalau kamu jadi Umar apakah kamu bakal langsung menyerah setelah dibuly atau kamu akan terus berusaha?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Instagram/@kampusindonesia

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU