INDOZONE.ID - Dua mahasiswa pertukaran di awal semester, Laurens dan Julija, memberikan kesan pertama mereka tentang kehidupan di Seoul National University (SNU).
Laurens dari Jerman, di Departemen Teknik Elektro dan Komputer, dan Julija dari Norwegia, yang kini kuliah di Departemen Desain. Korea dan SNU
Dari sekian banyak universitas yang bisa dikunjungi untuk pertukaran pelajar, Laaurens memilih Korea dan SNU karena ingin mengenal budaya Asia Timur.
Pengaruh budaya Korea yang mendunia juga membantunya lebih mudah beradaptasi dengan kehidupan kampus.
Sementara itu, Julija menuturkan bahwa ia telah mengenal sedikit tentang budaya Korea, seperti K-drama dan K-pop.
Baca juga: ITS Bekali Ribuan Pelajar Surabaya Penggunaan AI yang Efektif dan Beretika
Menurutnya, dengan hal tersebut ia bisa memperluas perspektif lebih mudah di SNU.
Keduanya berkomentar bahwa reputasi universitas dan struktur dukungan mahasiswa pertukaran menjadi keputusan bulat dalam memilih SNU.
Minat Terhadap Kelas Bahasa Korea
Julija memilih praktik dan seminar Bahasa Korea. Meskipun memiliki kendala Bahasa, ia sengaja ingin menantang dirinya sendiri.
Ia belajar keras dengan bantuan aplikasi penerjemahan dan asisten pengajar yang menurutnya sangat ramah.
Kelas Bahasa Korea memang membuat waktunya terasa lebih lama, tapi ilmu yang diberikan dapat menambah pengalamannya.
Laurens mengambil pendekatan serupa, memadukan mata kuliah utama dengan studi bahasa Korea untuk memperluas perspektif.
Ia menikmati program pertukaran pelajarnya dan ingin mengeksplorasi lebih dari sekadar teknik.
"Mengambil kelas bahasa Korea adalah keputusan besar bagi saya, tetapi saya tetap menikmati semua kelas saya, dan berbagai bagian kampus tempat saya bisa belajar,” tuturnya.
Fasilitas yang Menguntungkan
Ada banyak fasilitas yang menguntungkan di SNU, seperti perpustakaan, laboratorium, serta bus antar-jemput yang memudahkan mahasiswa.
Baca juga: Setidaknya 5 Fasilitas Ini Kudu Ada di Kampus Biar Mahasiswa Betah!
Dengan bus, Laurens bisa mengunjungi lebih banyak kelas, klub, dan sesi belajar larut malam yang jaraknya berjauhan.
"Dengan bus, mudah untuk pergi ke mana-mana. Jika tidak ada bus, saya tidak akan memilih kuliah teknik di atas bukit," ungkap Laurens.
Sementara mengenai pengalaman sehari-hari di kampus, Julija mengutarakan tentang suasana SNU yang akomodatif.
Menurutnya, SNU adalah kampus inklusif, yang sebagian besar kegiatannya menggunakan Bahasa Inggris.
Ia juga bisa membuat kartu bank di kampus, dan sebagian besar menu yang ada di kafetaria sudah diterjemahkan.
Julija memberikan nasihat sederhana bagi calon mahasiswa SNU yang berasal dari negara lain sepertinya.
Setidaknya, pelajarilah sedikit tentang Korea sebelum datang, terutama jika baru pertama kali mengunjungi Korea.
Di SNU, sedikit persiapan dapat membawa banyak manfaat karena didukung oleh lingkungan yang inklusif, dan tantangan akan menjadi mesin kepercayaan diri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: En.snu.ac.kr