Rabu, 24 DESEMBER 2025 • 11:40 WIB

UGM Bentuk Tujuh Kelompok Lintas Disiplin untuk Bantu Percepatan Penanggulangan Bencana Sumatera

Author

Sivitas Akademika UGM saat Konferensi Pers soal penanggulangan bencana (ugm.ac.id)

INDOZONE.ID - Universitas Gadjah Mada (UGM) terus memperkuat kontribusi untuk penanggulangan bencana di Sumatera. Kali ini, UGM membentuk tujuh kelompok kerja lintas disiplin.

Inisiatif ini diharapkan bisa menjawab kebutuhan penanggulangan bencana, dari tanggap darurat hingga pemulihan jangka panjang secara menyeluruh. Seluruh kerja nantinya dilakukan berbasis data, kajian ilmiah, dan koordinasi multipihak.

Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, menyebut peran kampus untuk memastikan bahwa ilmu pengetahuan dapat berkontribusi nyata dalam kebencanaan.

“Kami membentuk Emergency Response Unit dengan tujuh Working Group lintas keilmuan agar ilmu ikut memastikan ketepatan keputusan, percepatan pemulihan, serta dukungan kesehatan dan sosial bagi penyintas,” jelasnya.

Baca juga: Wujudkan Kampus Hijau, Unpad Jatinangor Terapkan Sistem Gerbang Otomatis Berbasis AI untuk Tekan Emisi Karbon

Kelompok kerja 1 akan fokus pada tanggap darurat, dengan perhatian utama pada sivitas akademika dan warga terdampak. Tim bakal melakukan pendataan lapangan untuk memastikan kebutuhan dasar bisa terpenuhi.

Bantuan yang dikerahkan seperti logistik, hunian sementara, dan asesmen lanjutan buat kelompok rentan.

“Kami menyiapkan bantuan makanan, dukungan hunian, serta asesmen lanjutan agar perlindungan bagi warga terdampak dapat segera berjalan,” tutur Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha dan Kerja Dr. Danang Sri Hadmoko.

Selanjutnya, kelompok 2 yang fokus pengembangan Geoportal Informasi Dasar Kebencanaan, untuk memetakan dampak bencana, jalur evakuasi, lokasi pengungsian, dan prioritas bantuan. Sistem ini dilakukan supaya tidak terjadi duplikasi data lintas lembaga.

Selain itu, akses data yang terbuka juga bisa mempercepat pengambilan keputusan ketika terjadi sebuah bencana.

“Geoportal kami rancang agar peta tanggap darurat dapat diakses bersama dan digunakan secara cepat serta akurat,” jelasnya.

Baca juga: Itera Ciptakan Alat Pemotong Tahu Semi-Manual untuk Dongkrak Efisiensi UMKM Bandar Lampung

Sementara itu, kelompok 3 memiliki fokus untuk penguatan dasar ilmiah penanggulangan bencana melalui kajian kebencanaan terintegrasi.

Tim ini menilai bahwa bencana terjadi karena dipengaruhi oleh hujan ekstrem, degradasi lingkungan, dan aktivitas manusia. Kelompok 3 menggunakan pendekatan multibahaya untuk dikembangkan, sehingga peta risiko bisa adaptif dan relevan saat digunakan.

“Kami mendorong peta risiko adaptif yang mengintegrasikan dinamika alam dan aktivitas manusia sebagai dasar mitigasi berkelanjutan,” ujar  Perwakilan Tim, Sigit Heru Murti Budi Santosa.

Dari sisi kebijakan, kelompok 4 memiliki tugas untuk memetakan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan regulasi mitigasi bencana. Tim melakukan koordinasi langsung dengan kementerian terkait dan BNPB.

Kondisi saat ini membuat sinkronisasi kebijakan harus jadi perhatian utama, apalagi menghadapi tantangan perubahan iklim. Hasil kajian tersebut bakal diarahkan untuk mempercepat implementasi di daerah.

Baca juga: Mahasiswa Wajib Tahu: Lebih Penting Organisasi atau Akademik?

Selanjutnya ada kelompok 5, yang menjadi ranah rehabilitasi dan rekonstruksi dengan prinsip membangun lebih aman serta berkelanjutan. Para penyintas ditempatkan jadi subjek utama untuk proses pemulihan lingkungan dan hunian.

Tim ini akan mendorong pemanfaatan material lokal, sehingga lebih ramah lingkungan dan mudah dibuat masyarakat. Huntara dibuat berbasis keluarga penyintas, lebih manusiawi dibanding tenda darurat. 

“Hunian transisi kami rancang sederhana agar bisa dibangun penyintas sendiri dan dipindahkan saat lokasi aman telah ditetapkan,” jelas  Ashar Saputra, selaku ketua tim.

Untuk persoalan medis ada pada kelompok 6, yang setiap minggunya mengirim tim sebagai bagian dari pemulihan awal. Tim membantu untuk mengaktifkan kembali rumah sakit dan puskesmas yang kolaps di wilayah terdampak.

Ketua Tim, Sudadi mengungkapkan saat ini penanganan fokus pada penyakit kulit dan diare, seiring adanya masalah sanitasi dan kualitas air. Selain itu, dukungan berupa infrastruktur air bersih juga disiapkan untuk kebutuhan warga.

Baca juga: AIESEC Unila Cetak "Food Heroes" di SD Al-Kautsar: Edukasi Kurangi Food Waste Melalui Kreativitas

Kelompok 6 juga fokus pada dukungan kesehatan mental dan psikososial. Tim menekankan pada reaksi emosional penyintas terhadap situasi ekstrem adalah hal wajar. Fokusnya juga diarahkan untuk pemulihan anak dan keluarga terdampak.

Terakhir ada kelompok 7, yang berperan dalam komunikasi publik dan advokasi. Tim ini bakal memastikan kondisi lapangan terhubung dengan proses pengambilan kebijakan. Koordinasi akan terus dilakukan, mulai dari pemerintah pusat, daerah, dan pemangku kepentingan lain.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Ugm.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU