INDOZONE.ID - Gempa bumi di wilayah pesisir Maluku seakan jadi realitas yang membayangi kehidupan masyarakat. Risiko ini mendorong adanya kolaborasi lintas perguruan tinggi dengan menghadirkan teknologi peringatan dini.
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) dan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) bekerja sama dengan memasang enam unit Earthquake Warning Alert System (EWAS) di Kabupaten Maluku Tengah.
Teknologi ini kembangkan untuk bantu masyarakat agar menerima peringatan dini gempa dengan cepat, jadi memiliki waktu untuk merespon dan mengurangi risiko.
Baca juga: Bangga! Mahasiswa UGM Bawa Pulang 5 Penghargaan dari Kompetisi Internasional di Malaysia
FMIPA UI berperan jadi perguruan tinggi pendamping dengan mengirimkan dosen Program Studi Geofisika dan Geologi, Dr. Eng. Supriyanto. Selain itu, FMIPA UI juga mengembangkan pendekatan pemberdayaan masyarakat supaya teknologi bisa dimanfaatkan lebih optimal.
“Pemasangan EWAS ini menunjukkan bahwa inovasi teknologi dari perguruan tinggi dapat diterapkan secara langsung untuk keselamatan masyarakat,” ujar Supriyanto.
EWAS adalah sistem deteksi otomatis yang bisa memberikan peringatan dini gempa. Menurutnya, sistem ini akan berfungsi efektif jika diiringi dengan pemahaman masyarakat terkait cara kerja dan respons saat muncul peringatan.
Pemasangan EWAS dilakukan mencakup dua wilayah pesisir, yaitu Negeri Waai dan Pulau Nusalaut. Setiap lokasi dipasang tiga unit EWAS untuk upaya penguatan mitigasi berbasis teknologi.
Baca juga: Kerja Nyata Berbuah Prestasi! Layanan Keprotokolan UGM Raih Penghargaan di Kategori PTNBH
Kegiatan ini terdapat dua program pengabdian masyarakat, yang didukung pendanaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Program pertama yaitu Program Mahasiswa Berdampak Pemberdayaan Masyarakat oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (PM-BEM) UKIM di Pulau Nusalaut. Program ini diketuai oleh Vanny Leutualy, S.Kep., Ns., M.Kep.
Sedangkan program kedua yaitu Program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) Tahun Anggaran 2025, dengan fokus implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi untuk desa pesisir tangguh bencana di Negeri Waai, diketuai oleh Joanna Cristy Patty.
Tak hanya memasang alat, kegiatan ini akan dilakukan pendampingan berkelanjutan. Tim FMIPA UI melakukan pendampingan supaya mudah mengoperasikan dan memanfaatkan sistem secara mandiri.
Baca juga: Bukan Sekadar Jauh dari Rumah! Inilah 7 Manfaat Merantau bagi Mahasiswa
“Keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya diukur dari teknologi itu sendiri, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dalam memanfaatkannya. Sehingga, kami tidak hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga berupaya memberdayakan masyarakat agar lebih tanggap terhadap bencana dengan mengoperasikan EWAS ini,” tambah Supriyanto.
Pendampingan juga dilakukan pada pengembangan ide teknologi, perancangan program pemberdayaan, penyusunan proposal, perencanaan keuangan, pemenuhan luaran kegiatan, dan perkuat jaringan kerja sama.
Dekan Fakultas Kesehatan UKIM Ambon, Ns. Dene F. Sumah, mengatakan sinergi antar kampus ini jadi kunci untuk berinovasi agar manfaatnya berdampak kepada masyarakat.
Baca juga: Klinik UIN Surakarta Gelar Donor Darah dan Cek Kesehatan Secara Gratis, Catat Tanggalnya!
“Kolaborasi ini sangat berarti bagi penguatan kesiapsiagaan dan keselamatan masyarakat pesisir,” ujarnya.
Pemasangan EWAS di Negeri Waai dan Pulau Nusalaut adalah langkah nyata FMIPA UI dan UKIM memperkuat kesiapsiagaan masyarakat di daerah rawan gempa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ui.ac.id