Rabu, 21 JANUARI 2026 • 20:03 WIB

Angin Segar bagi Penderita Disfagia, Peneliti UPN Veteran Yogyakarta Hadirkan Food Thickener dari Bonggol Jagung

Author

Ilustrasi Food Thickener yang dipelopori oleh peneliti UPN "Veteran" Yogyakarta (upnyk.ac.id)

INDOZONE.ID - Inovasi pengental makanan (food thickener) buatan tim peniliti asal Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, sedang dalam tahap uji penelitian mendalam. Inovasi tersebut dikepalai langsung oleh Avido Yuliestyan dan Berty Dwi Rahmawati.

Food thicker tersebut memanfaatkan limbah pertanian dengan kandungan serat tinggi, yang dapat digunakan untuk penderita disfagia atau gangguan menelan.

Sampai saat ini, limbah ampas tebu, bonggol jagung, dan jerami padi kerap dibuang begitu saja oleh orang-orang tanpa dimanfaatkan lebih lanjut.

Namun, dua peneliti asal UPNVY itu mengelolanya menjadi Carboxymethyl Cellulose (CMC), yakni senyawa yang dikenal memiliki sifat pengental dalam industri pangan.

Baca juga: Mau Lolos PKN STAN atau IPDN? Ini 7 Tips Jitu Mengatasi Malas dan Menjaga Konsistensi Belajar

Disfagia sering dialami oleh lansia dan orang dengan gangguan neurologis. Mereka membutuhkan tekstur makanan tertentu agar aman dikonsumsi dan terhindar dari tersedak.

Oleh karena itu, makanan yang dikonsumsi perlu diberi pengental agar teksturnya tetap terjaga meski bercampur dengan air liur.

Avido menyebutkan bahwa makanan bagi penderita disfagia perlu dirancang dengan tekstur yang tetap stabil saat dikonsumsi.

Baca juga: Kementerian Transmigrasi Luncurkan Beasiswa Patriot, Libatkan 10 PTN Terbaik di Indonesia

Jika kekentalan menurun terlalu cepat sebelum ditelan, hal ini dapat meningkatkan risiko gangguan saat makan. Karena itu, stabilitas pengental menjadi aspek penting yang kami pelajari,” ujarnya.

Mereka berdua melakukan dua tahapan dalam proses pengembangan inovasi ini.

Pertama, mereka melakukan Analisis Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan Scanning Electron Microscopy (SEM) untuk mengidentifikasi struktur kimia dan morfologi yang terkandung dalam CMC yang dihasilkan.

Terakhir, mereka juga menjalankan uji reologi yang meliputi viskositas dan Small Amplitude Oscillatory Shear (SAOS) untuk mengamati perilaku air dan kestabilan tekstur pengental yang digunakan.

Baca juga: Musim Hujan Tiba, Ini 5 Tips Menjaga Kesehatan untuk Mahasiswa agar Selalu Produktif

Hasil uji menunjukkan, bahan yang digunakan dari limbah pertanian dengan serat tinggi ini sesuai dengan standar pedoman diet disfagia, seperti International Dysphagia Diet Standardisation Initiative (IDDSI) dan National Dysphagia Diet (NDD).

Di waktu yang akan mendatang, peneliti akan terus mengembangkan inovasi ini lebih lanjut agar dapat digunakan secara luas.

Mereka akan terus melakukan uji keamanan pangan, agar manfaatnya dapat segera dirasakan oleh kalangan masyarakat yang membutuhkan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Upnyk.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU