Imbauan dari UNDIP: Modus Penipuan Lewat Telepon Makin Canggih, Literasi Digital Jadi Senjata Wajib
INDOZONE.ID - Modus penipuan digital sekarang makin kreatif, bahkan bisa dibilang makin “niat”. Kalau dulu orang sering kena tipu lewat SMS atau chat random, sekarang pelaku mulai pakai cara yang lebih meyakinkan yaitu telepon langsung.
Suaranya rapi, bahasanya formal, bahkan kadang tahu data pribadi kita. Ujung-ujungnya bikin panik dan tanpa sadar kita nurut aja.
Melihat tren yang makin bikin resah ini, Universitas Diponegoro atau UNDIP resmi mengimbau seluruh civitas academica supaya lebih waspada terhadap penipuan telepon yang mengatasnamakan lembaga resmi.
Kampus menegaskan, keamanan digital bukan cuma soal teknologi canggih, tapi juga soal kesadaran kita sendiri dalam menjaga data pribadi dan berpikir kritis.
Di zaman serba digital kayak sekarang, semua orang wajib punya “radar curiga”. Apalagi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan yang tiap hari berurusan dengan sistem digital. Semakin aktif online, semakin besar juga potensi jadi target.
Baca juga: Keren! FIB Undip Juara 1 Realisasi RGA per Dosen di Anugerah Capaian Kinerja Undip 2025
Latar Belakang Imbauan Kampus
Menurut UNDIP, belakangan ini makin banyak laporan soal telepon penipuan yang mengaku dari lembaga resmi.
Modusnya macam-macam, ada yang mengaku aparat, petugas pajak, pegawai bank, bahkan lembaga pemerintah. Strateginya simpel tapi efektif yaitu bikin panik dulu.
Korban biasanya dikasih tahu kalau mereka punya masalah hukum, tunggakan pajak, pelanggaran administrasi, atau rekening yang mau diblokir. Semua disampaikan dengan nada serius dan mendesak.
Pelaku sengaja bikin situasi terasa darurat, supaya korban nggak sempat mikir panjang. Dalam kondisi panik, banyak orang akhirnya langsung kasih data pribadi. Bahkan ada yang transfer uang karena takut masalahnya makin besar.
Kampus melihat pola ini sebagai ancaman serius. Karena itu UNDIP merasa penting untuk mengingatkan seluruh civitas academica agar lebih waspada dan nggak mudah terpancing.
Keamanan Data Civitas Academica Tetap Terjaga
UNDIP juga memastikan bahwa data yang tersimpan di server universitas aman dan terlindungi.
Tidak ada kebocoran data dari sistem internal yang bisa dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab.
Kampus juga menegaskan satu hal penting, yaitu UNDIP tidak pernah membagikan data pribadi mahasiswa, dosen, atau tenaga kependidikan ke pihak luar tanpa otorisasi resmi.
Selain itu, universitas juga tidak pernah meminta data rahasia lewat telepon sepihak, apalagi minta transfer uang.
Jadi kalau ada yang menelepon dan minta OTP, PIN, nomor rekening, atau transfer dana sambil mengatasnamakan lembaga tertentu, itu harus langsung bikin kita curiga. Hal sederhana seperti ini sebenarnya bisa jadi tameng utama untuk melindungi diri.
Modus Penipuan yang Perlu Diwaspadai
Ada beberapa pola penipuan telepon yang sering muncul dan perlu banget diwaspadai. Pertama, tuduhan kasus hukum palsu. Korban diklaim terlibat pelanggaran atau kejahatan tertentu.
Kedua, ancaman pemblokiran rekening. Pelaku bilang ada transaksi mencurigakan dan korban harus segera verifikasi.
Ketiga, permintaan data sensitif. Biasanya diminta NIK, nomor rekening, OTP, PIN, atau password.
Keempat, permintaan transfer uang dengan alasan biaya administrasi, denda, atau penyelesaian masalah.
Semua modus itu punya satu pola yang sama yaitu bikin korban merasa harus bertindak cepat. Tujuannya jelas, supaya korban nggak sempat cek kebenaran informasi.
Baca juga: FIB UNDIP Resmikan Masjid Al-Adab: Ruang Ibadah Baru yang Jadi Titik Temu Ilmu dan Spiritualitas
Langkah Aman saat Dapat Telepon Mencurigakan
UNDIP mengimbau civitas academica untuk tetap tenang kalau menerima telepon mencurigakan. Panik justru jadi senjata utama pelaku.
Prinsip paling penting yaitu jangan kasih data pribadi apa pun. OTP, PIN, password, dan identitas pribadi tidak boleh dibagikan lewat telepon.
Kalau diminta transfer uang, langsung abaikan.
Cara paling aman adalah tutup telepon. Setelah itu, laporkan ke pihak berwenang atau unit resmi di kampus.
Kelihatannya sepele, tapi memutus telepon bisa menyelamatkan kita dari kerugian besar.
Keamanan Digital Adalah Tanggung Jawab Bersama
UNDIP menegaskan bahwa keamanan digital bukan cuma tugas sistem teknologi. Faktor paling penting tetap manusia. Data pribadi itu aset berharga. Sekali bocor, dampaknya bisa panjang dan ribet.
Karena itu literasi digital penting banget. Kita harus terbiasa cek fakta, nggak gampang percaya, dan berani mempertanyakan hal yang terasa janggal.
Kalau semua orang sadar, lingkungan jadi lebih aman. Kalau satu orang lengah, dampaknya bisa ke banyak pihak.
Peran Humaniora Dalam Memahami Kejahatan Digital
Imbauan ini juga didukung penuh oleh Fakultas Ilmu Budaya UNDIP. Melalui wawancara langsung dengan Dosen FIB Undip, pendekatan humaniora dianggap penting untuk memahami fenomena penipuan digital secara lebih dalam.
Karena penipuan bukan cuma soal teknologi. Ini juga soal psikologi, komunikasi, dan cara manusia merespons tekanan.
Pelaku memanfaatkan emosi, rasa takut, dan kebiasaan sosial. Mereka paham bagaimana manusia bereaksi ketika panik.
Makanya, memahami perilaku manusia dan pola komunikasi jadi kunci penting dalam pencegahan.
Pendekatan humaniora membantu kita memahami bukan cuma bagaimana penipuan terjadi, tapi juga kenapa orang bisa tertipu.
Literasi Digital Jadi Bekal Wajib Zaman Sekarang
Teknologi memang bikin hidup lebih mudah, tapi juga membawa risiko baru. Kemampuan pakai teknologi harus diimbangi kemampuan memahami dampaknya.
Literasi digital sekarang bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan hidup.
Mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan diharapkan saling mengingatkan dan saling menjaga. Edukasi keamanan digital juga perlu terus dilakukan.
Lingkungan akademik yang aman bukan cuma dibangun dari sistem, tapi dari budaya sadar risiko.
Baca juga: Mahasiswa FIB Undip, M. Irham Maolana Sabet Juara 2 Faculty Battle “Indonesia Punya Kamu”
Imbauan UNDIP soal kewaspadaan terhadap telepon penipuan jadi pengingat penting bahwa keamanan digital dimulai dari diri sendiri. Teknologi boleh makin canggih, tapi kewaspadaan manusia tetap pertahanan utama.
Dengan memahami modus penipuan, menjaga data pribadi, dan berpikir kritis, civitas academica bisa melindungi diri dari berbagai ancaman kejahatan siber.
Ini bukan sekadar peringatan, tapi langkah nyata membangun lingkungan akademik yang aman, cerdas, dan tangguh di era digital.
Karena pada akhirnya, keamanan bukan cuma soal sistem yang kuat, tapi soal manusia yang sadar, peduli, dan nggak gampang panik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung