INDOZONE.ID - Kawasan ikonik Kayutangan Heritage di Kota Malang mendadak bertransformasi menjadi ruang edukasi publik pada 10 Maret 2026 silam.
Di tengah hiruk-pikuk warga yang menanti azan Magrib, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadir membawa angin segar melalui inisiatif bertajuk Ngebuburead.
Program ini bukan sekadar ajang berkumpul untuk ngabuburit, melainkan sebuah sarana yang memadukan semangat literasi, edukasi ekologis, hingga atraksi kuliner interaktif dalam satu wadah.
Wastra Alam di Atas Catwalk Warisan Budaya
Pusat perhatian pengunjung sore itu tertuju pada sebuah peragaan busana yang tidak biasa. Putra-putri kampus UMM tampil apik mengenakan batik ecoprint hasil kreativitas dosen UMM.
Baca juga: 5 Prospek Kerja Lulusan Teknologi Pangan, Gajinya Bisa Tembus Rp15 Juta per Bulan
Berbeda jauh dengan proses batik konvensional yang kerap menggunakan zat kimia, teknik ecoprint ini mengandalkan pigmen alami yang diekstraksi langsung dari helai daun dan mahkota bunga.
Hasilnya adalah pola-pola unik nan eksklusif yang tercetak alami di atas kain, sekaligus menjadi simbol fashion masa depan yang estetik namun tetap menjaga kelestarian bumi.
Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.I.Kom., menegaskan bahwa kehadiran busana ramah lingkungan di jantung wisata Malang ini merupakan misi besar kampus untuk membumikan konsep keberlanjutan.
“Batik ecoprint ini kami hadirkan sebagai bentuk kampanye gaya hidup ramah lingkungan. Kami ingin menunjukkan bahwa karya kreatif dari kampus juga bisa berpihak pada keberlanjutan, memanfaatkan bahan alami, dan tetap memiliki nilai seni yang tinggi,” tegasnya.
Mendekatkan Jendela Dunia ke Ruang Terbuka
Baca juga: UNAIR Gelar Mudik Gratis, Mahasiswa Bisa Pulang Kampung Tanpa Pusing Ongkos
Ngebuburead juga memiliki misi besar untuk menyulut kembali gairah membaca di tengah gempuran distraksi digital.
Kehadiran Mobil KaCa (Kamis Membaca) menjadi magnet kuat bagi anak-anak dan remaja.
Tanpa sekat tembok perpustakaan, mereka terlihat asyik membaca beragam koleksi buku sambil duduk santai menikmati suasana sore yang sejuk.
Maharina menambahkan bahwa pemilihan ruang publik sebagai lokasi kegiatan bertujuan untuk mendobrak stigma bahwa literasi adalah kegiatan yang membosankan.
“Melalui Mobil KaCa, kami ingin membawa buku lebih dekat ke ruang publik. Literasi tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas atau perpustakaan, tetapi juga bisa tumbuh di tengah suasana ngabuburit yang hangat dan penuh kebersamaan,” ujarnya.
Sajian Kuliner dan Keceriaan Keluarga
Baca juga: Dosen FEB UGM Ciptakan Westa, Aplikasi AI yang Bisa Kenali Jenis Sampah Lewat Kamera HP
Suasana Kayutangan semakin semarak dengan aroma lezat yang berasal dari sesi live cooking tim Hotel Rayz UMM.
Sebagai salah satu unit bisnis sekaligus laboratorium terapan bagi para mahasiswa, hotel ini memamerkan kepiawaian para koki dalam meracik hidangan buka puasa yang menggugah selera.
Kegiatan ini semakin lengkap dengan adanya berbagai fun game yang melibatkan interaksi antara orang tua dan anak.
Salah satu pengunjung, Roudhodul Mufarikha, mengungkapkan rasa terkesannya terhadap konsep yang diusung oleh Kampus Putih ini..
“Menurut saya, konsep ngabuburit seperti ini sangat menarik karena bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak anak-anak membaca dan mengenal hal-hal positif. Jadi, sambil menunggu berbuka, ada pengalaman yang bermanfaat dan berkesan,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Umm.ac.id