INDOZONE.ID - Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR).
Sebuah tim yang menamakan diri Bismillah Juara Satu Aamiin ini sukses membawa pulang Medali Emas dalam ajang Biolexion 2.0 - Research and Innovation Idea Competition.
Kompetisi ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Biologi SITH ITB di Bandung pada 4 April 2026 lalu.
Tim tersebut beranggotakan empat mahasiswa lintas kampus, yakni Naila Fatin Afifah dari Fakultas Vokasi UNAIR, Nailah Jelita Husnul Walad dari Fakultas Sains dan Teknologi UNAIR, Muhammad Fathurrabbany Muhasiby dari bidang Sains dan Biologi, serta Khalifah Razan Prasetyo dari Institut Teknologi Sepuluh November.
Baca juga: Ready Jadi Diponegoro Muda? Ini Panduan Lengkap UTBK-SNBT Undip 2026 yang Wajib Kamu Simak
Mereka mengangkat tema besar Empowering Innovation for Biodiversity Crisis Solutions sebagai dasar gagasan yang tim kembangkan.
Dalam kompetisi tersebut, tim menyoroti kondisi Ekosistem Batang Toru, salah satu hutan hujan tropis yang memegang peranan penting di kawasan Sumatera Utara.
Kawasan tersebut dikenal sebagai habitat terakhir orangutan Tapanuli yang kini berada di ambang kepunahan dengan populasi kurang dari 800 ekor.
Ketua tim, Naila, menjelaskan bahwa latar belakang pemilihan topik ini didasari keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan yang terus terjadi.
Baca juga: Paguyuban Duta Farmasi UNAIR Gelar Roadshow Pemilihan Duta 2026
“Jadi kami memilih kasus ini karena kami prihatin terhadap deforestasi, pertambangan, dan ekspansi sawit yang menggerus kawasan tersebut. Kami menghadirkan solusi yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga berpihak pada masyarakat adat,” tuturnya.
Sebagai solusi, tim mengembangkan inovasi bernama RIMBA, yaitu sistem pemantauan hutan berbasis teknologi terintegrasi.
Mereka memanfaatkan berbagai fitur pelengkap seperti kamera jebak, sensor bioakustik, serta sensor mikroklimat untuk memantau aktivitas satwa, perubahan suhu, hingga kondisi lingkungan sekitar secara menyeluruh.
“Sensor ini dirancang untuk membantu pemantauan area hutan secara real time sehingga ancaman dapat terdeteksi lebih cepat. Data yang dikumpulkan kemudian diintegrasikan ke dalam website dan aplikasi yang kami kembangkan,” ujar Razan.
Baca juga: Mahasiswa UMS Hadirkan Sekolah Pintar Berbasis Tenaga Surya, Panen 5 Medali Nasional Sekaligus
Dalam proses pengembangan ide hingga kompetisi berlangsung, tim menghadapi sejumlah kendala, terutama dalam hal koordinasi.
Bagi mereka, perbedaan latar belakang keilmuan dan jadwal antar anggota sempat menjadi tantangan tersendiri. Namun, hal tersebut dapat diatasi melalui komunikasi yang baik.
Keberhasilan tim ini menjadi bukti bahwa kerja sama lintas disiplin dan kepedulian terhadap isu lingkungan dapat menciptakan solusi inovatif dan juga relevan bagi masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Unair.ac.id