INDOZONE.ID – Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Christopher Jason Santoso dan Muhammad Fadhli, dinobatkan sebagai wisudawan terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi pada periode kelulusan kali ini.
Dari jenjang Sarjana (S1), Christopher Jason Santoso yang menempuh pendidikan di Departemen Studi Pembangunan mencuri perhatian dengan meraih IPK yang nyaris sempurna, yaitu 3,98.
Baca juga: MenpanRB Perkenalkan Wajah Baru Pelayanan Publik kepada 1.216 Calon Wisudawan IPDN
Pemuda asal Surabaya yang lebih akrab dipanggil Christo mengaku bahwa awalnya tidak menyangka bisa meraih predikat tersebut.
“Sejak awal masuk ITS melalui jalur SNBP, target saya hanya ingin bertahan dan memberikan yang terbaik di tiap semester,” ucap Christo.
Selain itu, selama 3,5 tahun kuliah, ia juga aktif dalam kegiatan internasional melalui ITS Global Engagement, termasuk menjuarai ajang ASEAN Future Innovators Challenge di Malaysia dan mengikuti program di Tianjin University, China.
Di balik kecintaannya pada ilmu pengetahuan, Christo juga aktif melestarikan budaya sebagai bentuk kontribusi positif di luar bidang sains dan teknologi.
Kepedulian sosialnya bahkan tertuang dalam riset skripsinya, yang membahas tentang inklusi sosial bagi warga Surabaya yang mengalami diskriminasi karena keterbatasan bicara (rhotacisme).
“Melalui wawancara mendalam untuk menginterpretasikan pengalaman subjektif para penutur, saya berharap riset ini mampu memberikan kontribusi nyata bagi penguatan kebijakan inklusif di Kota Surabaya,” jelasnya.
Sementara itu, kebanggaan juga datang dari jenjang Sarjana Terapan (D4) melalui sosok Muhammad Fadhli dari Departemen Teknik Instrumentasi yang lulus dengan IPK 3,78.
Fadhli sempat merasa kesulitan di awal masa kuliah karena tidak memiliki latar belakang ilmu kelistrikan saat di SMA. Akan tetapi, berkat kegigihannya, ia bangkit dan meraih nilai sempurna di satu semester.
Fadhli juga memiliki gaya belajar yang unik. Bagaimana tidak, ia lebih banyak mengandalkan praktik langsung melalui berbagai proyek.
Salah satu karyanya adalah alat Heat Exchanger Simulator yang dibuat sebagai tugas akhir dan kini telah disumbangkan ke laboratorium kampus untuk membantu praktikum adik kelasnya.
Baca juga: Terbaru! Urutan Universitas Terbaik Indonesia Versi UniRank 2026, Ada Kampus Incaranmu?
Meskipun sibuk menjadi asisten laboratorium dan pengurus BEM, Fadhli kini sudah memulai karier profesionalnya di PT Sucofindo.
“Sepintar apa pun kamu, tetaplah ibaratkan menjadi gelas kosong agar selalu siap menerima ilmu baru,” pesannya kepada mahasiswa lain.
Keberhasilan dua wisudawan ini merupakan bukti nyata kontribusi ITS dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), baik dalam aspek pendidikan berkualitas, inovasi industri, maupun pengurangan ketimpangan sosial.
Prestasi mereka diharapkan mampu menginspirasi mahasiswa lain untuk terus berkarya dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Its.ac.id