Sabtu, 02 MEI 2026 • 13:00 WIB

Kreatif! Mahasiswa ITS Gabungkan Budaya Jawa dan Desain Modern Lewat Perhiasan Pawukon Jewelry

Author

Mahasiswa ITS Bhirawa Kusuma Wijaya saat mengenalkan Pawukon Jewelry Collection pada pameran di Departemen Desain Produk Industri ITS (its.ac.id)

INDOZONE.ID - Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), menciptakan karya kreatif melalui peluncuran Pawukon Jewelry Collection.

Benda berupa koleksi kalung dan anting merupakan karya inovatif hasil pemikiran Bhirawa Kusuma Wijaya, mahasiswa Departemen Desain Produk Industri (Despro) angkatan 2023. 

Baca juga: ITS Terapkan Teknologi AI Face Recognition dan Keamanan Ketat di UTBK SNBT 2026

Melalui sentuhan desain yang dibuatnya, Bhirawa menyatukan kecanggihan teknik material modern dengan kedalaman filosofi astrologi Jawa kuno yang dikenal sebagai Wuku. Berawal dari tugas mata kuliah, koleksi tersebut menggunakan pendekatan material-driven design. 

Bhirawa memilih untuk mengeksplorasi tembaga sebagai bahan dasar utama. Ia menerapkan teknik oksidasi khusus untuk menciptakan lapisan patina biru pada permukaan logam.

Jika biasanya patina dianggap sebagai tanda kerusakan atau cacat pada material logam, di tangan Bhirawa, lapisan ini justru dapat diolah menjadi elemen yang memberikan nilai seni tinggi dan kesan mewah yang unik.

Pemuda asal Ponorogo tersebut menjelaskan bahwa pemilihan tema Pawukon bertujuan untuk mempopulerkan kembali identitas budaya lokal.

“Zodiak Barat sudah sering digunakan dalam perhiasan, sehingga kami mengangkat zodiak Jawa kuno asli Indonesia ke dalam bentuk perhiasan,” tuturnya.

Baca juga: UNJ Jalin Kemitraan dengan Italia, Dorong Program Akademik dan Pertukaran Budaya

Sebagai fokus utama koleksinya kali ini, Bhirawa memilih Wuku Watugunung, yang secara personal juga merupakan wuku kelahirannya sendiri.

Menariknya, setiap detail dalam desain Pawukon Jewelry ternyata mengandung cerita dan simbolisme tersendiri. Ada tiga elemen utama yang disematkan dalam koleksi ini:

Lakuning Rembulan: Unsur yang divisualisasikan melalui teknologi Dancing Stone dengan hiasan berlian moissanite. Batu permata ini dirancang untuk terus bergetar mengikuti pergerakan tubuh penggunanya, menciptakan efek visual dinamis yang melambangkan kebahagiaan dan keramahan.

Bunga Wijaya Kusuma: Diwakili oleh keanggunan mutiara air tawar, elemen tersebut melambangkan proses pertumbuhan manusia. Penggunaan mutiara juga berfungsi untuk memberikan keseimbangan visual elegan terhadap tekstur tembaga yang tampak kasar (rustic).

Sang Hyang Antaboga: Sosok naga legendaris diwujudkan melalui detail kepala naga bermahkota yang dilapisi emas 18 karat. Dengan sentuhan akhir yang sangat mengkilap (high polished), elemen ini merepresentasikan semangat dalam berinovasi dan berkesenian.

Proses pembuatan koleksi memakan waktu satu semester, mulai dari tahap riset material hingga produksi secara manual (handmade). 

Produk inovasi perhiasan kalung dan anting dari Pawukon Jewelry Collection, karya mahasiswa Desain Produk Industri ITS (its.ac.id)

Baca juga: Bikin Skripsi dan Riset Jadi Makin Kece, Dosen Sejarah Undip Langsung Bikin Kelas 'Level Up' Skill Menulis!

Salah satu tantangan terbesar Bhirawa adalah teknik ammonia fuming untuk menghasilkan warna biru pada tembaga secara terkontrol selama 24 jam, serta memastikan produk aman dan nyaman saat bersentuhan dengan kulit.

Bhirawa juga menyampaikan bahwa dukungan penuh dari Departemen Desain Produk Industri ITS, baik berupa fasilitas peralatan maupun ruang pameran, menjadi kunci sukses terciptanya karya ini.

Ke depannya, ia berharap Pawukon dapat dikembangkan menjadi produk komersial dan sanggup menjangkau pasar lebih luas.

“Harapannya, lebih banyak orang yang mengenal karya ini, sekaligus budaya Indonesia dan ilmu zodiak kuno yang mulai jarang diketahui,” pungkas Bhirawa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Its.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU