Mahasiswa UGM kurangi limbah sisa makanan (ugm.ac.id)
INDOZONE.ID - Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dari Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat menjalankan program bertajuk "Santri Lawan Food Waste", di Asrama Putri Pondok Pesantren Al-Imdad, Bantul.
Inisiatif ini bertujuan untuk menekan angka sisa makanan yang terbuang percuma setiap harinya. Berdasarkan data awal, asrama menghasilkan tumpukan sisa makanan yang cukup besar, yakni mencapai 30 hingga 40 kilogram per hari. Jenis makanan yang paling sering tersisa adalah nasi dan sayuran.
Baca juga: Bantu Pasien Lupus, Tim Kesehatan Masyarakat UI Bawa Pulang Juara di CIMSAThon 2026
Kondisi inilah yang mendorong Kadek Darmawan, Stella Stritamar Amabi, dan Karimatul Khalidah untuk turun tangan sebagai bagian dari praktik mata kuliah Pemberdayaan Masyarakat dan Networking.
Dalam pelaksanaannya, tim mahasiswa UGM juga melibatkan para santri, pengurus asrama, hingga pengelola dapur melalui proses observasi dan wawancara mendalam.
Langkah ini diambil untuk memahami akar permasalahan mengapa begitu banyak makanan yang tersisa di piring para santri. Dari hasil diskusi, ditemukan beberapa alasan yang melatarbelakangi munculnya limbah makanan.
Faktor-faktor tersebut meliputi rasa dan variasi menu yang mungkin kurang cocok dengan selera, kebiasaan santri yang gemar mengonsumsi camilan sebelum jam makan, pengaruh suasana hati (mood), pengambilan porsi yang tidak terukur, hingga waktu makan yang dirasa terlalu singkat.
“Kami belajar bersama santri dan pengelola pondok untuk memahami berbagai faktor yang menyebabkan makanan tersisa. Usulan kegiatan muncul dari pengalaman dan kebutuhan mereka, sedangkan kami membantu membuka ruang diskusi agar setiap pihak dapat menyampaikan pandangan dan masukan,” tutur Kadek.
Sebagai jalan keluar, disepakati empat aktivitas utama untuk mengurangi limbah makanan tersebut. Pertama adalah pemberian edukasi secara berkala, seperti pada setiap Jumat malam, mengenai pentingnya mengambil makanan sesuai kemampuan dan menghabiskannya.
Menariknya, materi edukasi ini dikaitkan dengan nilai-nilai agama yang dijunjung di pesantren, seperti sikap syukur, tanggung jawab, dan larangan berperilaku berlebih-lebihan atau israf.
Kedua, disediakan kotak saran menu sebagai sarana komunikasi antara santri dan pengelola dapur agar hidangan yang disajikan lebih sesuai dengan selera penghuni asrama.
Ketiga, menghidupkan kembali budidaya maggot (larva lalat tentara hitam) untuk mengolah sisa makanan yang masih ada agar tidak menumpuk di tempat sampah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ugm.ac.id