Canggih! Mahasiswi Ubaya Ciptakan Alat Terapi Otot Berbasis AI untuk Bantu Pasien Stroke dan Cedera Saraf
INDOZONE.ID - Johana Ongko, mahasiswi dari program studi Biomedical Engineering (Teknik Biomedis), Fakultas Teknik Universitas Surabaya (FT Ubaya), berhasil mengembangkan teknologi kesehatan untuk pasien rehabilitasi fisik.
Ia menciptakan alat terapi otot cerdas yang dirancang khusus untuk menangani bagian tubuh bawah (lower limb) yang mengalami pelemahan.
Baca juga: ITS Terapkan Teknologi AI Face Recognition dan Keamanan Ketat di UTBK SNBT 2026
Inovasi bernama Functional Electrical Stimulation (FES) ini lahir dari pengamatan Johana terhadap persoalan medis yang sering dihadapi oleh penyintas, baik pasien stroke maupun cedera sumsum tulang belakang (spinal cord injury).
Para pasien umumnya kehilangan kemampuan untuk bergerak secara aktif dalam jangka waktu lama.
Kurangnya aktivitas fisik kemudian memicu munculnya atrofi, yakni kondisi massa otot menyusut dan melemah, sehingga membuat proses penyembuhan menjadi makin sulit dan memakan waktu lama.
Secara teknis, alat ciptaan Johana bekerja dengan cara menyalurkan stimulasi listrik ke saraf motorik atau saraf penggerak pada tubuh pasien.
Stimulasi ini bertujuan untuk memicu otot agar tetap berkontraksi secara terkontrol meski pasien tidak dapat menggerakkannya secara mandiri.
Baca juga: 10 Jurusan di UNPAD yang Sepi Peminat, Peluang Lolos Lebih Besar Lewat Jalur Mandiri!
Namun, keunggulan utama dari penemuannya terletak pada otak penggeraknya yang tidak lagi bersifat manual atau statis.
Johana mengintegrasikan teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI) yang dilatih menggunakan metode reinforcement learning ke dalam sistem kontrol alat.
Berbeda dengan perangkat terapi konvensional yang memberikan rangsangan listrik dengan dosis sama secara terus-menerus, teknologi AI membuat alat menjadi sangat adaptif.
Sistem mampu membaca respon tubuh dan mengatur intensitas rangsangan secara otomatis agar tidak berlebihan serta benar-benar sesuai dengan kebutuhan unik dari setiap individu pasien.
"Tujuan pengembangan teknologi ini adalah untuk tetap memastikan otot berkontraksi selama masa rehabilitasi, sehingga mendukung proses pemulihan pasien," jelas Johana.
Baca juga: UMKM-GO, Inovasi Mahasiswa UI yang Permudah Analisis Bisnis UMKM Berbasis AI
Ia juga menekankan bahwa peran AI sangat penting untuk menjaga sisi keamanan. Lalu, rangsangan yang diberikan harus presisi, agar tidak merusak jaringan tubuh lainnya.
Meski saat ini penelitiannya masih menggunakan data dari satu subjek uji coba, Johana berencana untuk memperluas cakupan penelitiannya dengan melibatkan lebih banyak data dari berbagai subjek dengan kondisi medis yang berbeda-beda.
Harapannya, di masa mendatang, alat terapi otot berbasis AI ini dapat menjangkau pasien lebih luas dan mempercepat proses kemandirian fisik bagi yang tengah berjuang melawan kelumpuhan atau pelemahan otot.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ubaya.ac.id