INDOZONE.ID - Mahasiswi Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Saridha Hidayah, berhasil meraih Juara III dalam ajang Veteran Climbing Festival 2026 pada 30-31 Mei 2026 di Wall Climbing Mapala UPN Veteran Yogyakarta.
Prestasi tersebut diraih setelah Saridha kembali mengikuti kompetisi panjat tebing usai vakum selama hampir empat tahun dari cabang olahraga tersebut.
Kompetisi ini menjadi salah satu wadah bagi mahasiswa dan siswa pecinta alam untuk mengasah kemampuan panjat tebing sekaligus mempererat hubungan antar komunitas.
Bagi Saridha yang juga aktif sebagai anggota UKM Mapala UMY, pencapaian tersebut menjadi momen spesial karena menandai kembalinya dirinya ke arena kompetisi.
Baca juga: Mahasiswa Unila Sabet Medali Emas di PENA 2, Ciptakan Inovasi Aplikasi untuk Pemerataan Pendidikan
Ia mengaku tidak menyangka bisa langsung naik podium setelah cukup lama meninggalkan dunia panjat tebing.
“Senang sekali. Setelah kurang lebih empat tahun vakum dari perlombaan, akhirnya bisa kembali mengikuti kompetisi dan mendapatkan juara,” jelasnya.
Ketertarikannya terhadap olahraga panjat tebing ternyata sudah tumbuh sejak kecil. Awalnya, ia kerap mengikuti lomba panjat pinang yang digelar saat perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia di sekolah.
Dari situlah bakatnya mulai terlihat, hingga akhirnya mendapat kesempatan mengikuti seleksi yang diselenggarakan oleh Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI).
Baca juga: Rawat Kearifan Lokal, Mahasiswa UPI Lakukan Penelitian Budaya di Kampung Adat Cikondang
“Awalnya hanya iseng ikut. Setelah lomba panjat pinang, ada pihak FPTI yang sedang mencari bibit atlet. Saya diminta guru untuk ikut seleksi. Alhamdulillah, saya berhasil meraih juara,” ujarnya.
Meski berhasil meraih prestasi, perjalanan menuju Veteran Climbing Festival 2026 tidak berjalan mudah.
Dengan waktu persiapan yang terbatas dan tanpa pendampingan pelatih khusus, ia harus menjalani latihan secara mandiri guna memulihkan kemampuan fisik dan teknik yang sempat lama tidak diasah.
Namun, tantangan terbesar justru datang dari faktor mental. Dia mengaku sempat diliputi rasa tidak percaya diri dan overthinking hingga dua hari sebelum perlombaan.
Baca juga: RS UNS Wellness Day 2026 Ajak Masyarakat Wujudkan Hidup Seimbang antara Fisik dan Mental
“Dua hari sebelum lomba saya sempat ingin mundur karena merasa persiapan belum maksimal. Saya overthinking dan tidak percaya diri,” ungkapnya.
Di tengah keraguan tersebut, dukungan dari para senior di Mapala UMY menjadi penyemangat yang membuatnya kembali yakin untuk bertanding.
Menurutnya, kepercayaan diri justru muncul ketika dirinya mulai memanjat dan menghadapi jalur perlombaan secara langsung.
“Sebelum naik saya masih grogi. Tapi setelah mulai memanjat rasanya lega. Percaya diri itu muncul ketika saya sudah berada di dinding panjat. Kalau hanya diam dan terus memikirkan ketakutan, justru akan semakin grogi,” tuturnya.
Baca juga: ITB Ubah Sampah Rumah Tangga Jadi Pangan Bergizi Lewat Teknologi Apartemen Ayam
Selain aktif berlatih, ia juga harus membagi waktu antara perkuliahan, organisasi, dan aktivitas olahraga.
Baginya, tugas akademik tetap menjadi prioritas utama sebelum menjalani latihan. Ketika jadwal kuliah sedang padat, ia memilih fokus menyelesaikan kewajiban perkuliahan terlebih dahulu sebelum kembali berlatih pada waktu yang lebih memungkinkan.
Ia meyakini bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh bakat atau dukungan dari lingkungan sekitar, tetapi juga bergantung pada kemauan kuat dari dalam diri sendiri.
“Yang paling penting itu niat. Percuma latihan sejauh apa pun kalau dari diri sendiri tidak benar-benar ingin. Selain itu harus tekun berlatih dan berani mencoba. Karena kalau tidak mencoba, kita tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya,” ujarnya.
Baca juga: Mahasiswa UNY Dorong UMKM Lokal Go Digital Lewat Strategi Promosi Kreatif
Menurutnya, keberanian untuk mencoba merupakan langkah awal yang harus dimiliki siapa pun yang ingin berkembang dan meraih prestasi.
Prestasi yang diraihnya menjadi bukti bahwa jeda panjang bukanlah penghalang untuk kembali berkompetisi.
Dengan kerja keras, ketekunan, serta dukungan lingkungan yang suportif, dirinya berhasil membuktikan bahwa rasa ragu dapat dikalahkan dan diubah menjadi motivasi untuk mengantongi prestasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Lldikti5.kemdiktisaintek.go.id