INDOZONE.ID - Natalia Cipto Mangun Kusumo, mahasiswi Program Studi Manajemen, Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (UBAYA), mengukir prestasi membanggakan di tingkat nasional.
Natalia membawa pulang medali perak dari kompetisi Pekan Essay Nasional (PENA) 2 yang diselenggarakan di Universitas Dhayana Pura, Bali, pada 2-3 Mei 2026.
Baca juga: Bongkar Rahasia Juara! Ini 3 Struktur Esai yang Dipakai Mahasiswa untuk Menang Lomba
Keberhasilan tersebut diraih melalui esai inovatifnya yang mengangkat potensi tepung sorgum sebagai solusi ketahanan pangan. Gagasan yang ditulisnya, berfokus pada pengolahan komoditas sorgum menjadi tepung bebas gluten (gluten-free).
Inovasi ini didorong oleh kepedulian Natalia terhadap kesehatan anak-anak penyandang autisme dan penderita gangguan autoimun penderita Celiac.
Bagi kelompok tersebut, konsumsi gluten dapat memicu reaksi negatif hingga merusak sistem pencernaan. Dengan adanya tepung sorgum, mereka memiliki alternatif bahan pangan yang jauh lebih aman dan menyehatkan.
Selain manfaat kesehatan, Natalia menjelaskan bahwa sorgum dipilih karena keunggulannya dari sisi produksi. Tanaman tersebut dinilai lebih tangguh karena minim risiko gagal panen, lebih praktis diolah, serta memiliki tingkat kerugian yang rendah bagi petani.
Selama ini, penderita alergi gluten sering kali harus mencampur tepung jagung dan singkong secara manual untuk mendapatkan hasil yang baik. Kehadiran tepung sorgum adalah solusi tunggal yang lebih efisien untuk berbagai jenis olahan makanan.
Perjalanan Natalia meraih prestasi ini tidaklah mudah. Sebagai perwakilan tunggal dari UBAYA di tengah kepungan peserta tim dari universitas lain, ia sempat merasa kurang percaya diri.
Namun, berkat bimbingan dan dukungan moral dari dosen pembimbingnya, Dr. Prita Ayu Kusumawardhany, ia mampu tampil dengan penuh keyakinan.
Proses panjang pun telah dilaluinya, mulai dari tahap penggalian ide, konsultasi intensif, hingga pengembangan prototipe produk yang bekerja sama dengan pelaku UMKM.
Dalam menulis esai, Natalia berbagi tips bahwa bagian solusi dan tantangan harus dikerjakan lebih awal karena memerlukan pemikiran yang paling dalam.
Baca juga: Calon Insinyur Muda Unjuk Gigi di Petra Civil Expo 2026, Hadirkan Solusi Infrastruktur Masa Depan
“Menurutku esai yang baik adalah esai yang dibuat dari hati, terstruktur, dan memiliki tujuan yang jelas sehingga menghasilkan gagasan dan inovasi yang memiliki keterbaruan untuk menjawab tantangan di global maupun negara,” jelasnya.
Melalui pencapaian yang berhasil diraih, Natalia berharap dapat berkontribusi dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Ia juga berpesan kepada sesama mahasiswa untuk berani melangkah dan tidak takut gagal.
“Jangan pernah takut mencoba karena menang kalah biasa. Saat memulai, mungkin masih merasa kurang, tetapi disitu letak kita bertumbuh dan belajar,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ubaya.ac.id