Senin, 22 JUNI 2026 • 14:40 WIB

COATERRA, Inovasi Unik Mahasiswa UGM yang Bisa Bikin Buah dan Sayur Lebih Tahan Lama

Author

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) kembangkan inovasi pascapanen berkelanjutan “COATERRA” dan berhasil meraih Gold Medal ajang 6th International Youth Business Competition (IYBC) 2026. (biologi.ugm.ac.id)

INDOZONE.ID - Tim mahasiswa asal Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil meraih Gold Medal dalam ajang 6th International Youth Business Competition (IYBC) 2026 yang berlangsung pada 10-12 Juni 2026.

Raihan tersebut berhasil mereka bawa pulang berkat inovasi teknologi pascapanen bernama COATERRA: Commercial Organic Advanced Technology for Edible Resource Retention and Agribusiness.

Inovasi tersebut dikembangkan sebagai solusi untuk mengurangi kehilangan hasil panen hortikultura, sekaligus memperpanjang masa simpan buah dan sayuran melalui lapisan pelindung berbahan alami.

Tim terdiri dari Ayu Nawang Wulan, Sri Garcinia Lathifah, Fahima Ellya Wulandari, dan Tika Permatasari dengan pendampingan langsung dari Prof. Eko Agus Suyono.

Baca juga: Mantap! 2 Lulusan Siswa SMA Bekasi Lolos ke Kampus Top Dunia, Pilih Kuliah di Australia dan Kanada

Kehilangan hasil panen masih menjadi tantangan besar dalam sektor pertanian, terutama pada komoditas hortikultura yang mudah mengalami penurunan kualitas selama proses distribusi dan penyimpanan.

Berangkat dari permasalahan tersebut, tim mahasiswa UGM mengembangkan COATERRA, yaitu sebuah edible coating spray yang dirancang untuk menjaga kualitas produk segar setelah panen.

Teknologi ini bekerja dengan membentuk lapisan tipis transparan pada permukaan buah dan sayuran supaya mampu membantu mempertahankan kesegaran produk lebih lama.

Salah satu keunggulan COATERRA terletak pada bahan baku yang digunakan. Produk ini memanfaatkan chitosan berbasis fungi atau jamur sebagai bahan utama pembentuk lapisannya.

Baca juga: UNS Dorong Petani Vanili Lokal Go International Lewat Pelatihan Standar Global

Inovasi tersebut berbeda dengan chitosan konvensional yang umumnya berasal dari limbah cangkang udang, kepiting, atau jenis krustasea lainnya.

Penggunaan sumber berbasis jamur dinilai lebih ramah lingkungan serta mengurangi risiko alergen yang kerap ditemukan pada produk turunan krustasea.

Selain itu, bahan ini juga dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen yang mengutamakan produk vegan-friendly, halal-friendly, dan berlabel bersih (clean label).

COATERRA dikembangkan dalam bentuk semprotan, agar lebih mudah digunakan dibandingkan metode pelapisan konvensional.

Baca juga: 20 Perguruan Tinggi Terbaik Indonesia Versi QS World University Rankings 2027

Lapisan yang dihasilkan mampu membantu mengurangi penguapan air, memperlambat proses respirasi produk hortikultura, menjaga tekstur, dan mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab pembusukan.

Dengan kemampuan tersebut, produk segar cenderung memiliki umur simpan yang lebih panjang tanpa harus bergantung pada bahan pengawet sintetis.

Selain memperpanjang masa simpan produk pertanian, COATERRA juga dinilai memiliki potensi untuk menekan angka food loss yang masih menjadi persoalan di berbagai wilayah.

Capaian tersebut sekaligus memperkuat komitmen UGM dalam mendorong pengembangan teknologi yang berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan tanpa kelaparan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta aksi terhadap perubahan iklim.

Baca juga: Mahasiswa Vokasi UI Hadirkan Banyumili Adventure, Ular Tangga Raksasa untuk Hidupkan Suasana Kampus

COATERRA diharapkan dapat menjadi solusi pascapanen yang aplikatif dan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Ugm.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU