INDOZONE.ID - Kelompok kerja KKN Tim II Universitas Diponegoro yang ditempatkan di Desa Ngablak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mahasiswa berupaya menggali potensi UMKM lokal yang menjadi ciri khas desa.
Pilihan jatuh kepada komoditas lempok yang merupakan makanan khas Boyolali, khususnya di wilayah Kecamatan Wonosegoro dan Wonosamodro.
Makanan tradisional ini terbuat dari bahan dasar beras dan umumnya disajikan dengan sambal kacang, gorengan, serta sayuran, sehingga sekilas menyerupai pecel.
Namun, lempok memiliki ciri khas tersendiri, yaitu berbentuk persegi pipih, dibungkus daun pisang, dan memiliki tekstur yang kenyal.
Baca juga: 2 Mahasiswa FIB UNDIP Juara 1 PEKSIMIDA Jateng 2026, Siap Unjuk Gigi di Tingkat Nasional
Lempok sering dijadikan menu sarapan atau makanan pengganjal perut sebelum beraktivitas, khususnya bagi para petani.
Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian kuliner tradisional sekaligus upaya memperkenalkan dan mempromosikan produk unggulan Desa Ngablak kepada masyarakat yang lebih luas.
Kegiatan diawali dengan melakukan kunjungan langsung kepada para pelaku UMKM lempok yang telah lama menjalankan usahanya di Desa Ngablak.
Melalui kunjungan ini, Tim KKN memperoleh informasi mengenai sejarah usaha, proses produksi, serta upaya para pelaku UMKM dalam mempertahankan keberadaan lempok sebagai kuliner khas daerah.
Baca juga: Bukan Cuma Nilai Akademik, Ini Penetu Faktor School Well Being Siswa
Kunjungan pertama dilakukan ke UMKM lempok milik Ibu Suwarni (64 tahun) yang berlokasi di Dusun Kemiri. Beliau telah menekuni usaha lempok sejak tahun 2011 dan berjualan pada sore hingga malam hari.
Selanjutnya, tim mengunjungi UMKM lempok milik Ibu Siti (60 tahun) yang berada di Dusun Ngablak, tepatnya di sebelah Balai Desa Ngablak. Ibu Siti telah menjalankan usahanya selama kurang lebih 10 tahun dan berjualan pada pagi hari.
Kunjungan berikutnya dilakukan ke UMKM lempok milik Bapak Djuratmi (49 tahun) di Dusun Ngablak. Beliau telah menjalankan usaha lempok selama sekitar empat tahun dan berjualan pada sore hingga malam hari.
Ketiga UMKM lempok tersebut menjalankan usahanya dari rumah dengan bahan baku yang dipersiapkan secara mandiri, termasuk beras yang sebagian besar berasal dari hasil panen sendiri.
Baca juga: Bukan Cuma Nilai Akademik, Ini Penetu Faktor School Well Being Siswa
Proses pembuatannya masih mempertahankan cara tradisional sehingga cita rasa khas lempok tetap terjaga.
Berkat kualitas produk yang baik serta harga yang terjangkau, sekitar Rp3.000 per porsi, ketiga UMKM tersebut menjadi pilihan masyarakat setempat maupun wisatawan yang ingin mencicipi lempok khas Desa Ngablak.
Sebagai upaya mendukung pengembangan usaha, Tim KKN memberikan pendampingan kepada ketiga pelaku UMKM tersebut melalui pembuatan logo usaha, pencantuman lokasi usaha pada Google Maps, serta penyusunan buku panduan sederhana untuk pencatatan pemasukan dan pengeluaran.
Program ini diharapkan dapat membantu pelaku UMKM meningkatkan identitas usaha, memperluas jangkauan pemasaran, dan mengelola keuangan usaha secara lebih teratur dan berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan