Karya-karya Futuristik Anak ITB (itb.ac.id)
INDOZONE.ID - Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) buktikan kalau desain masa depan bisa lahir dari alam, bukan cuma dari teknologi tinggi.
Mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB berhasil membuat gebrakan di ajang Singapore Design Week 2025 lewat pameran bertajuk “Future Form: Adaptive Craft for Speculative Dystopia.”
Dengan konsep futuristik tapi berpijak pada alam, mereka berhasil memamerkan karya yang menggabungkan biomimikri (meniru sistem dan prinsip alam) dengan kerajinan tangan tradisional.
Proyek ini berangkat dari ide dasar tentang bagaimana kalau desain bisa belajar dari cara alam beradaptasi. Misalnya, daun yang bisa menggulung saat panas, atau kulit hewan yang menyesuaikan suhu tubuh.
Konsep ini jadi inspirasi utama para mahasiswa ITB untuk menciptakan desain adaptif berbasis biomimikri. Mereka gak cuma pakai teknologi digital, tapi juga memanfaatkan bahan alami seperti rotan dan kayu bahan yang fleksibel, kuat, dan punya nilai budaya.
Pendekatan ini menunjukkan kalau inovasi gak harus selalu bergantung pada mesin canggih justru, kearifan lokal bisa jadi fondasi untuk menciptakan desain masa depan yang lebih berkelanjutan.
Karya-karya Futuristik (itb.ac.id)
Dalam pameran yang berlangsung di Institute of Contemporary Arts, Singapura, ada delapan karya yang dipamerkan tujuh dari mahasiswa dan satu dari dosen pembimbing. Diantaranya;
Setiap karya punya ciri khas sendiri, tapi semuanya mengandung satu pesan yang sama yaitu desain masa depan bukan cuma soal keindahan, tapi juga tentang bagaimana ia bisa “bertahan hidup” dalam dunia yang terus berubah.
Proyek FSRD ITB ini berkolaborasi dengan LASALLE College of the Arts dan University of the Arts Singapore. Mahasiswa yang terlibat sebelumnya mengikuti mata kuliah Biomimicry Design di bawah bimbingan Dr. Bismo, sebelum akhirnya dikurasi untuk tampil di ajang internasional ini.
Lewat karya ini, mahasiswa ITB ingin menunjukkan kalau masa depan desain Indonesia bisa dibangun dengan pendekatan ramah lingkungan dan berakar dari tradisi.
Baca juga: Kulit Pisang Jadi Kulit Premium: Inovasi BINUS yang Bisa Ubah Industri Fashion
Dengan memadukan sains, seni, dan alam, mereka berhasil menghidupkan ide bahwa kerajinan tangan bisa menjadi jembatan menuju inovasi berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Itb.ac.id