Ilustrasi mahasiswa depresi (freepik.com)
INDOZONE.ID - Di tengah tekanan akademik dan kehidupan kampus yang padat, banyak mahasiswa tanpa sadar berbicara pada diri sendiri dengan cara yang menyakitkan. Kalimat negatif yang diucapkan dalam hati, bahkan sebagai lelucon ringan, dapat membentuk pola pikir yang merusak.
Ucapan yang terdengar sepele bisa menanamkan keyakinan baru di kepala dan sering kali, keyakinan itu justru menjatuhkan diri sendiri.
Baca juga: Berani Bilang “Gak Bisa”: Skill Kampus yang Bikin Hidup Si People Pleaser Lebih Sehat!
Ucapan seperti “Aku gak sepintar teman-teman lain” atau “Nilaiku pasti jelek lagi” sering terdengar di ruang kelas atau grup belajar. Sekilas tampak sebagai bentuk kerendahan hati, tetapi sebenarnya merupakan bentuk self-sabotage.
Semakin sering diulang, kalimat itu akan memperkuat keyakinan negatif tentang diri sendiri. Akibatnya, rasa percaya diri menurun dan kemampuan akademik ikut terhambat.
Setiap kali menghadapi tugas atau ujian, banyak mahasiswa yang melontarkan kalimat seperti “Aku gak bakal lulus tepat waktu.” Kalimat semacam ini mungkin dimaksudkan untuk bercanda, tetapi otak gak mengenal perbedaan antara candaan dan pernyataan serius.
Kata-kata negatif yang diulang terus-menerus akan membentuk persepsi baru kalau diri memang gak mampu. Lambat laun, kepercayaan diri terkikis dan semangat akademik pun merosot.
Banyak mahasiswa terjebak dalam keyakinan bahwa usaha mereka tidak akan berhasil. Pikiran seperti “Pasti gagal” menciptakan apa yang disebut self-fulfilling prophecy, sebuah kondisi ketika prediksi negatif benar-benar terjadi karena terus dipercaya.
Alih-alih fokus pada proses belajar dan strategi sukses, energi justru terkuras untuk memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Akibatnya, performa menurun, rasa cemas meningkat, dan kegagalan pun menjadi kenyataan yang diciptakan sendiri.
Di era media sosial, kehidupan kampus sering tampak seperti ajang pembuktian. Melihat teman yang lebih cepat lulus, lebih aktif di organisasi, atau lebih populer bisa memicu perasaan gak cukup baik. Padahal, setiap mahasiswa punya ritme dan perjuangan masing-masing.
Kebiasaan membandingkan diri hanya membuat kehilangan fokus pada perkembangan pribadi.
Mengubah cara berbicara kepada diri sendiri bisa menjadi langkah sederhana untuk memperkuat kesehatan mental mahasiswa. Alih-alih berkata “Aku gagal,” cobalah berkata “Aku lagi belajar.” Ucapkan “Belum bisa,” bukan “Tidak bisa.”
Baca juga: Toxic Productivity: Ketika Produktif Jadi Racun buat Mahasiswa!
Perubahan kecil dalam bahasa sehari-hari mampu mengubah pola pikir menjadi lebih adaptif dan positif. Mahasiswa yang berbicara dengan penuh penghargaan pada dirinya sendiri akan lebih tangguh menghadapi tekanan akademik dan sosial.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@mudahbersuara