INDOZONE.ID - Sekelompok mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang tergabung dalam tim TBCare menciptakan inovasi sistem deteksi dini TBC yang hanya menggunakan rekaman suara batuk.
Hal ini berangkat dari adanya tantangan besar Indonesia di dunia kesehatan, yang menjadi negara dengan beban kasus Tuberkulosis (TBC) terbesar kedua di tingkat global.
Kondisi tersebut diperparah oleh sulitnya akses masyarakat terhadap alat diagnosis standar yang memadai.
Baca juga: USU Berikan Layanan Kesehatan Gratis dan Dukungan Psikososial bagi 355 Korban Banjir Medan Marelan
Penyakit TBC yang dipicu oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis umumnya ditandai dengan gejala batuk kronis yang berlangsung selama lebih dari dua minggu.
Nathania Cahya Romadhona, selaku ketua tim, mengungkapkan bahwa suara batuk sebenarnya menyimpan pola spektral tertentu yang sangat kompleks dan tidak beraturan.
“Diperlukan pendekatan yang mampu menangkap kompleksitas sinyal secara komprehensif,” ujarnya.
Baca juga: UI akan Buka Prodi S1 Kecerdasan Buatan Pertama di Indonesia
Untuk mengatasi kerumitan tersebut, timnya memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan tingkat lanjut atau deep learning.
Dalam prosesnya, suara batuk pasien divalidasi dengan sistem bernama Yet Another Mel Spectrogram Network (YAMNet).
“Model ini memiliki akurasi dan performa yang unggul dalam klasifikasi dan validasi suara batuk dalam berbagai kondisi lingkungan,” tambahnya.
Baca juga: Tekan Kasus Diare Balita yang Tinggi di Bogor, FKM UI Edukasi Warga Gunakan Teknologi Biopori
Selanjutnya, tim melakukan ekstraksi fitur suara dan memprosesnya melalui model Long Short-Term Memory (LSTM) yang telah dimodifikasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Its.ac.id