Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 12 APRIL 2026 • 16:30 WIB

Universitas Brawijaya Latih Mahasiswa Jadi Konselor Sebaya, Siap Tangani Isu Kesehatan Mental

Universitas Brawijaya Latih Mahasiswa Jadi Konselor Sebaya, Siap Tangani Isu Kesehatan MentalTim Layanan Konseling Universitas Brawijaya melatih mahasiswa menjadi konselor kesehatan mental sebaya. (prasetya.ub.ac.id)

INDOZONE.ID - Universitas Brawijaya (UB) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung kesehatan mental mahasiswa melalui kegiatan pelatihan konseling yang digelar oleh Subdirektorat Layanan Konseling, Pencegahan Kekerasan Seksual, dan Perundungan pada 11 April 2026 silam di Lantai 8 Gedung Rektorat UB.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa dibekali kemampuan dasar sebagai konselor sebaya (peer counselor), mulai dari mengenali tanda-tanda awal gangguan psikologis hingga memberikan respons yang tepat terhadap teman yang mengalami masalah mental.

Salah satu pemateri, psikolog Ahmad Yafi, S.Psi, menekankan bahwa esensi konseling bukan sekadar memberi solusi, melainkan membantu seseorang memahami perasaannya dan mengambil keputusan secara mandiri. 

Konselor yang baik adalah yang mampu membantu klien untuk mengambil keputusan sendiri, dan konseling bukan sekadar memberi solusi tetapi memahami perasaan klien," ujarnya.

Baca juga: ITS Ciptakan Benwit, Bensin dari Sawit yang Siap Jadi Solusi Krisis Energi dan Kurangi Impor BBM

Ia juga menyoroti pentingnya empati sebagai fondasi utama dalam membangun hubungan konseling yang sehat. Dengan empati, seseorang dapat lebih hadir secara emosional dan mampu memvalidasi perasaan orang lain. 

“Budaya empati yang bisa di tumbuhkan di kampus membuat orang mau bercerita, orang mau speak up, orang mau asertif. Berkomunikasi secara asertif untuk mengatakan apa yang dia rasakan. Akhirnya budaya interaksi satu sama lain muncul. Tidak memendam. Itu yang akan membentuk budaya baru di kampus saya,” tambahnya.

Selain itu, peserta juga mendapatkan materi terkait keterampilan dasar konseling atau micro skills, seperti teknik eksplorasi, klarifikasi, dan parafrase yang penting dalam membantu proses pendampingan dari segi emosional seperti ini. 

Ahmad juga menekankan pentingnya kesabaran dalam mendengarkan, karena kemampuan mendengar secara aktif menjadi kunci keberhasilan dalam proses konseling.

Baca juga: Terinspirasi dari Nenek, Rinita Irawati Sukses Masuk Kedokteran Unila Lewat SNBP

Jangan pernah bosan untuk mendengarkan. Karena semakin membuat kita menjadi candu untuk melakukan konseling,” tambahnya.

Sementara itu, pemateri lain, Muhammad Sunarto, membahas penanganan krisis kesehatan mental, termasuk bagaimana mengenali kondisi serius seperti depresi, kecemasan berat, hingga potensi bunuh diri.

Ia menjelaskan bahwa mahasiswa perlu memiliki kepekaan dalam membaca situasi serta mampu memberikan pertolongan awal sebelum mengarahkan seseorang ke tenaga profesional.

Sunarto juga menjelaskan konsep restrain sebagai langkah terakhir dalam kondisi darurat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Prasetya.ub.ac.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Universitas Brawijaya Latih Mahasiswa Jadi Konselor Sebaya, Siap Tangani Isu Kesehatan Mental

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!