Kisah Anak Tukang Bangunan yang Lulus Fast-Track di ITB, Buktikan Mimpi Penuh dengan Perjuangan
INDOZONE.ID - Perjuangan meraih gelar di pendidikan tinggi gak semuanya bisa mulus. Apalagi kalau datang dari keluarga kurang mampu atau ekonomi terbatas.
Akan tetapi, keterbatasan ekonomi bukan jadi penghalang, asal punya tekad dan semangat yang tinggi. Apalagi, ditambah dengan keinginan untuk membanggakan orang tua, semua bisa dihadapi.
Kisah inspiratif datang dari Alif, seorang anak tukang bangunan, yang bisa lulus S1 dan S2 fast-track di Program Studi Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB).
Baca juga: Mau Lolos Tes SKD? Ini Tips, Trik, dan Strategi Pengerjaan Soalnya Biar Dapat Hasil Maksimal
Berbagai tantangan Alif hadapi dalam perjalanan kuliahnya. Di awal kuliah, sang ayah tercinta meninggal dunia, karena serangan jantung.
“Baru 1 minggu berkuliah di ITB, Bapa meninggal terkena serangan jantung ketika sedang mencari nafkah, meninggalkan saya, mamah, & adik saya. Sedih? sangat sedih dan kehilangan sekali,” tulisnya Alif dalam caption Instagram/@aliftowew.
Baca juga: Siap Panen Sayur Segar dan Lele Gemuk? Mahasiswa KKN-T UNDIP Ajak Warga Belajar Aquaponik Sederhana!
Kondisi ini gak bisa lama-lama dihadapi oleh Alif. Ia mulai bangkit dan memikirkan keluarganya untuk kedepannya.
Setelah ayahnya meninggal, Alif menjadi tulang punggung keluarga. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan seperti makan, bayar kontrakan, dan lainnya.
“Tapi ga bisa lama2 juga, kepikiran gimana keluarga saya kedepannya tanpa ada yg menafkahi? Bagaimana bayar kontrakan? biaya makan? Tapi ada yg mengingatkan saya yg memberi rezeki itu Allah bukan bapak,” sambungnya.
Baca juga: Kenali Jurusan Teknik Instrumentasi: Prospek Kerja, Gaji, dan Tantangannya
Alif mengaku harus berangkat kuliah dari jam 6 pagi, hingga pulang jam 10 malam. Berbagai pekerjaan yang menghasilkan uang ia lakukan, mulai dari mengajar part-time, asisten dosen, hingga asisten lab.
“Semenjak itu saya jadi tulang punggung keluarga,” ujar Alif.
“Semua yg menghasilkan dikerjakan supaya ada uang untuk keluarga,” tulisnya.
Dari hasil kerja kerasnya, Alif bisa mengumpulkan 3 juta lebih dalam satu bulan, dari hasil mengajar, beasiswa bidikmisi, dan beasiswa salman dari Masjid Salman ITB.
Baca juga: Mahasiswa UNAIR Jadi Delegasi Termuda WEF: Ide "Green Hearts" Jadi Solusi Limbah Global
“Saya hanya ambil uang 11k tiap harinya 10k untuk bensin PP baleendah-ITB (16 KM) 1K untuk parkir di salman (karena cuma salman yg parkirnya 1k,” katanya.
Tiap hari pun Alif hanya makan dari bekal yang dibawa dari rumah, bahkan jarang mengikuti acara-acara di dalam kampus. Hingga di semester 8, kehidupan Alif semakin membaik. Ia bertemu seorang sahabat bernama Adit, lalu membangun Cerebrum (platform untuk persiapan kuliah).
Alif juga berhasil memberikan sang ibu rumah dan mengumrahkan nya. Lalu, ia berhasil menikahi istri yang dicintai, sampai memiliki anak yang lucu. Hingga saat ini, Alif memiliki tempat tinggal dan kendaraan yang layak.
Baca juga: Tingkatkan Keamanan, Mahasiswa Undip Bantu Instalasi CCTV di Kelurahan Sendangmulyo
“Pak ternyata aku bisa melewatinya… bahagia ya pak di surga, nanti kalo kita udah ketemu bakal diceritakan semuanya pak”, tulis Alif.
Dari kisah Alif dapat diambil pelajaran kalau memiliki tekad dan semangat bisa mengalahkan semuanya. Namun, setiap orang punya cerita masing-masing. Jangan hanya sekadar melihat hasilnya saja, tapi juga perjuangan besar di baliknya.
Buat kamu yang masih berjuang, tetapi semangat dan nikmati perjuangannya.
“Konsisten dan menjadi terbaik di bidang masing-masing.” tutup Alif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@zonamahasiswa.id, Instagram/@aliftowew