INDOZONE.ID - Kebahagiaan di hari wisuda menjadi hasil yang ditempuh dengan perjuangan panjang selama kuliah.
Banyak tawa, air mata, dan tekad kuat untuk meraihnya, salah satunya hadir dari Saarah Dharmawan. Seorang penyandang tunarungu yang berhasil menuntaskan kuliah magister di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Saarah berhasil lulus dari Program Magister Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikan (PLB FIP) UNY. Ia mendapatkan beasiswa LPDP lewat jalur afirmasi penyandang disabilitas. Bukan cuma itu, ia juga pernah meraih beasiswa dari Gubernur Banten.
Baca juga: 5 Rekomendasi Jurusan Kuliah sesuai Zodiak: Bisa Jadi Pertimbangan yang Menarik!
Bukti Perjuangan dan Tekad
Gelar yang ia raih saat ini bukan sekadar simbol saja, tapi bukti nyata perjuangan dan tekad melawan prasangka dan menggapai cita-cita.
Kisah inspiratif ini berawal dari 2022, saat setelah menyelesaikan skripsi. Saarah bercerita ingin melanjutkan studi S2. Namun, ada beberapa perkataan yang ia terima justru meremehkannya.
Dari perkataan ini, justru menjadi pemicu Saarah untuk membuktikan bahwa dirinya bisa menggapai apa yang diinginkan.
Keterbatasan pada pendengaran memang tidaklah mudah baginya. Ia harus menghadapi berbagai syarat beasiswa, termasuk TOEFL ITP. Saarah belajar secara otodidak lewat buku dan YouTube. Pada akhirnya, ia memberanikan diri buat daftar LPDP jalur afirmasi disabilitas.
Dapat Berbagai Beasiswa
Keraguan terus terjadi di dalam dirinya, tapi ia didorong dari salah satu anggota DPRD Banten di tempat kerjanya. Dorongan ini membuat Saarah yakin dan hasilnya luar biasa, ia resmi lolos LPDP pada November 2023.
Sebelumnya, Saarah pernah mendapat beasiswa dari Gubernur Banten, ini jadi titik balik yang penting baginya. Bukan hanya meringankan beban finansial, tapi juga memperkuat keyakinan Saarah bahwa dengan keterbatasan untuk melangkah lebih jauh.
Baca juga: Lintas Dosen Unimal Lhokseumawe Adakan Pelatihan Guru MGMP Matematika
Pada Agustus 2024, Saarah resmi jadi mahasiswa S2 PLB UNY. Dalam perjalanannya, ia mendapatkan tantangan unik. Mulai dari harus membaca gerak bibir dosen, duduk di paling depan, hingga minta bantuan teman untuk mencatat.
Rasa lelah dan frustasi sering ia alami. Namun, Saarah tetap bertahan karena dirinya percaya kalau perjuangan ini bisa membuka jalan bagi teman-teman tunarungu lainnya buat raih pendidikan tinggi.
Baca juga: Mengenal Program CGS: Kuliah Gratis di China Buat Mahasiswa Internasional
Tantangan Terbesar Saarah
Saarah mengungkapkan tantangan terbesar saat mengerjakan tesis, yaitu berhadapan dengan dosen pembimbing Prof. Edi Purwanto. Trauma lama yang sempat dirasakan muncul kembali, sehingga membuat dirinya sulit fokus.
Saarah pun mengikuti sesi konseling dengan Unit Layanan Bimbingan dan Konseling UNY. Pada sesi ini, Saarah menerima belajar bahwa menangis bukanlah kelemahan, tapi bagian penyembuhan.
Baca juga: 7 Study Hacks untuk Mahasiswa, Buat Kuliah Kamu Jadi Lebih Efektif dan Efisien
Puncak perjuangan akhirnya tiba pada 1 Juli 2025, ia menjalani sidang tesis. Walaupun gemetar, ia berhasil melewati pertanyaan-pertanyaan dari dosen penguji. Hingga akhirnya, Saarah dinyatakan lulus dengan mendapatkan gelar M.Pd.
Kini, Saarah bukan hanya menjadi seorang magister, tapi juga simbol kalau keterbatasan bukan sebuah penghalang, tapi jalan kekuatan sesungguhnya. Ini juga jadi bukti kalau pendidikan inklusif bisa melahirkan orang-orang yang tangguh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Uny.ac.id