INDOZONE.ID - Publikasi jurnal jadi salah satu indikator untuk mengukur kualitas seorang akademisi, termasuk saat masih mahasiswa. Semakin bereputasi sebuah jurnal, bisa menjadi nilai plus sebagai portofolio kamu.
Namun, banyaknya jurnal predator bisa jadi ancaman yang serius bagi para akademisi, yang ingin publikasi tulisannya. Gak sedikit khususnya bagi pemula, justru terjebak ke dalam jurnal predator.
Baca juga: Hidupkan Waifu Interaktif, Mahasiswa ITS Ciptakan Teman Support Sistem: Emilia AI
Apa itu Jurnal Predator?
Jurnal predator ini adalah jurnal yang tidak mengikuti standar yang baik, seringnya hanya ingin mendapatkan keuntungan finansial tinggi.
Banyak jurnal predator yang hanya mengenakan biaya tinggi pada penulis, tapi tidak melakukan proses peer-review yang ketat. Padahal, rata-rata proses publikasi itu membutuhkan waktu lama, bisa 3 - 6 bulan. Sedangkan di jurnal predator bisa lebih cepat, tapi harus membayar.
Tentunya, ini bisa berdampak buruk pada penulis. Bisa saja, dikemudian hari ini memengaruhi karier kamu sebagai akademisi. Lalu apa saja sih risiko yang didapat kalau publikasi di jurnal predator?
Risiko Publikasi di Jurnal Predator
Penurunan Reputasi Akademis
Jika kamu menerbitkan jurnal di jurnal predator tentunya bisa merusak reputasi dari seorang akademisi. Jurnal ini tidak punya kredibilitas yang diakui oleh berbagai komunitas ilmiah, sehingga ketika ada penelitian yang dipublikasi, banyak dianggap tidak valid.
Tindakan ini bisa berdampak pada kepercayaan institusi lain yang dilakukan oleh peneliti. Oleh sebab itu, pastikan cek kredibilitas terlebih dahulu sebelum submit di jurnal yang kamu inginkan.
Pembatalan Karya Ilmiah
Banyak dari institusi akademik atau lembaga punya daftar jurnal bereputasi. Sehingga ketika peneliti menggunakan jurnal predator bisa ketahuan.
Institusi kalian pun bisa saja menarik kembali karya tulis yang telah dibuat, karena menerbitkan di jurnal yang tidak sesuai standar.
Potensi Penyalahgunaan Data
Risiko ketiga adalah adanya potensi penyalahgunaan data. Jurnal predator biasanya gak punya kebijakan yang jelas mengenai hak cipta dan kepemilikan data. Hal ini memungkinkan adanya penyalahgunaan data dari pihak yang tidak bertanggung jawab.
Bukan cuma itu, banyak juga jurnal predator yang justru menahan artikel tanpa izin, bahkan bisa menggunakan untuk kepentingan lain.
Baca juga: Banyuwangi Sambut Perkuliahan Perdana ISI Surakarta, Seni dan Budaya Jadi Kurikulum Utama
Minim Proses Peer-Review
Ini sering banget terjadi di jurnal predator. Banyak dari mereka hanya ingin mendapatkan keuntungan finansial saja, tanpa proses peer-review yang ketat. Akibatnya, artikel yang diterbitkan bisa saja banyak kesalahan, mulai dari metodologi, analisis lemah, hingga kesimpulan yang kurang valid.
Pemotongan Dana Riset
Kalau kamu mendapatkan dana riset dari sebuah institusi, bisa jadi risiko ditarik kembali karena publikasi di jurnal predator. Ini tentu bisa merugikan secara materiil juga bagi peneliti. Oleh karena itu, pastikan publikasi jurnal di tempat yang bereputasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@goalsacademy_id, Uptjurnal.umsu.ac.id