INDOZONE.ID - Pernah membayangkan seekor kecoa yang sering dihindari atau bahkan merasa jijik, tapi bisa jadi penyelamat manusia saat kondisi darurat.
Inovasi ini terbukti dari penelitian yang dikembangkan oleh Mochammad Ariyanto, berupa cyborg insects atau serangga hibrida robotik. Terobosan ini tentunya bisa buka peluang baru untuk misi penyelamatan dan kemanusiaan.
Baca juga: Lulus Jalur Skripsi atau Publikasi: Apa Sih Bedanya? Mana yang Lebih Mudah
Gabungan Biologi dan Robotika
Ariyanto mengungkapkan bahwa riset yang ia lakukan ini memadukan biologi dan robotika. Cara ini dilakukan untuk misi pencarian dan penyelamatan korban bencana di lokasi yang sulit terjangkau, baik oleh manusia atau robot konvensional.
Teknologi ini menghadirkan kecoa sebagai perangkat elektronik miniatur, sehingga bisa dikendalikan seperti robot mikro.
Ide ini berawal dari akhir 2020, dimana saat itu Ariyanto sedang menempuh studi doktoral. Ia merenung mengenai sulitnya evakuasi saat bencana melanda, seperti gempa dan tsunami Fukushima maupun kota padat lainnya.
Dari sinilah, muncul ide untuk menggabungkan kecerdasan buatan alamiah serangga lewat sistem berbasis robotik.
Baca juga: Keren! Mahasiswa ITS Ciptakan RoboGO, Robot Pintar untuk Deteksi Sumbatan Saluran Bawah Tanah
Menggunakan Kecoa Madagaskar
Serangga pilihan Ariyanto adalah kecoa Madagaskar, ukurannya sekitar enam sentimeter serta bisa bergerak lincah, memanjat dinding, hingga menyusup ke celah sempit. Selain itu, kecoa ini juga bisa bertahan di lingkungan minim oksigen.
“Kemampuan ini menjadikan cyborg insect punya nilai tambah, karena tetap bisa berfungsi bahkan di lingkungan berbahaya, seperti area radioaktif,” ujarnya.
Untuk mengendalikan gerakan serangga, teknologi ini menggunakan wireless simulator backpack robotik mini, yang berukuran 2 x 3 sentimeter. Kecoa ini juga bisa sebagai robot pengintai yang dapat dikendalikan secara nirkabel, tanpa ganggu gerakan alaminya.
“Kalau kita memaksa membuat robot sepenuhnya mekatronik dengan ukuran sangat kecil, tantangannya jauh lebih kompleks. Maka pendekatan ini justru memanfaatkan keunggulan alami serangga sambil tetap memastikan kelangsungan hidupnya terjaga,” jelas Ariyanto.
Fitur dan Metode
Dalam mengembangkan inovasi ini, Ariyanto bekerja sama dengan Prof. Morishima dari Osaka University. Lalu juga ada dukungan Moonshot Research and Development (R&D), program dari Japan Science and Technology Agency (JST).
Cyborg insect bukan sekadar bergerak, tapi juga bisa merekam video, mendeteksi panas tubuh, bahkan mengenali wajah manusia lewat sensor pintar. Semuanya terintegrasi dengan micro control.
Baca juga: Kisah Welin Kusuma, Koleksi 45 Gelar dengan Rekor 111 SKS dalam Satu Semester
Data yang didapat langsung dikirim ke tim SAR (search and rescue), untuk menemukan korban lebih akurat secara real-time.
Cyborg ini dapat dikendalikan dengan dua metode. Pertama, kendali manual dari operator lewat sinyal nirkabel. Kedua, adanya sistem navigasi otomatis sehingga memungkikan serangga bergerak cerdas, termasuk menghindari hambatan dengan bantuan dari algoritma khusus.
Ariyanto juga menyebut kalau saat ini sedang mengembangkan integrasi berbasis deep learning, untuk memungkinkan serangga ini merespon perintah dari suara.
Baca juga: Magang atau Freelance? Mana Lebih Worth it untuk Mahasiswa, Cek Perbedaannya!
Diterapkan di Indonesia
Walaupun awalnya untuk kebutuhan di Jepang, Ariyanto juga tidak menutup mata untuk diterapkan di Indonesia.
“Saya yakin teknologi ini dapat membantu misi penyelamatan di Indonesia, terutama di wilayah perkotaan padat penduduk,” katanya penuh keyakinan.
Bagi Ariyanto, teknologi bukan hanya sebuah pencapaian, tapi juga kontribusi dan kepedulian sosial. Ia menekankan bahwa penting untuk menanamkan etika dari setiap inovasi yang dibuat.
Baca juga: 5 Cara Efektif Bangun Relasi untuk Mahasiswa: Bekal Berharga untuk Masa Depan
“Fasilitas kita mungkin belum sebanding dengan negara maju, tapi semangat harus tetap ada. Jika kita terus bergantung pada negara lain, kita hanya akan menjadi importir, sementara transfer ilmu pengetahuan jarang terjadi. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan memajukan bangsa ini?” pesannya optimistis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Undip.ac.id