INDOZONE.ID - Massachusetts Institute of Technology (MIT) kembali melahirkan cerita inspiratif lewat sosok Erik Demaine, profesor termuda dalam sejarah kampus tersebut sekaligus pelopor bidang computational origami.
Demaine berhasil membuktikan kalau lipatan kertas sederhana bisa jadi bahasa desain yang berdampak besar bagi kesehatan, arsitektur, antariksa, hingga robotika.
Baca juga: Unik! Kuliah Kreatif Perikanan Tangkap Bersama Dosen Don yang Cosplay jadi Jumbo
Perjalanan Damaine
Lahir di Halifax, Kanada pada 28 Februari 1981, Demaine menjalani homeschooling bersama sang ayah, Martin Demaine, yang kelak menjadi kolaborator utamanya.
Sejak remaja, ketertarikannya pada geometri dan seni lipat disalurkan dalam eksplorasi sehari-hari.
Hasilnya diusia 20 tahun ia sudah meraih gelar PhD dari University of Waterloo dan langsung bergabung ke Massachusetts Institute of Technology sebagai profesor.
Di MIT, Demaine mengembangkan konsep computational origami. Ia memperlakukan aturan lipat layaknya perangkat lunak (software) yang mengatur perilaku selembar material sebagai perangkat keras (hardware).
Inovasi Origami yang Keren!
Demaine merancang lipatan yang dapat dikontrol secara matematis sehingga menghasilkan struktur presisi, fleksibel, dan efisien. Prinsip ini kemudian diterapkan di berbagai bidang.
Mulai dari desain stent medis minimal invasif yang bisa dilipat kecil sebelum mengembang di dalam tubuh.
Selain itu ada juga panel arsitektur lipat yang adaptif terhadap kebutuhan ruang, antena serta panel surya satelit yang terlipat rapat di roket lalu terbuka di orbit, hingga robot origami ringan dan murah untuk kebutuhan industri.
Tak berhenti pada riset ilmiah, Erik bersama ayahnya juga membawa karya origami ke ranah seni.
Pameran mereka menggabungkan presisi geometri dengan keindahan visual, membuktikan bahwa matematika bisa hadir dalam bentuk estetis.
Karya lintas disiplin ini mengantarkan Erik meraih penghargaan MacArthur Fellowship, sebuah pengakuan prestisius yang sering dijuluki “Hadiah untuk jenius”.
Inovasi Dalam Ruang Kuliah
Inovasi Demaine juga terasa di ruang kuliah. Dengan pendekatan “tangan di atas kertas”, mahasiswa gak hanya baca teori, tetapi langsung melipatnya.
Proses belajar ini membuat konsep rumit seperti kesetimbangan gaya atau kompleksitas algoritmik jadi lebih mudah dipahami, sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu.
Model pembelajaran ini juga diterapkan hingga ke klub desain dan ruang kreatif mahasiswa, serta menjadikan origami sebagai medium yang aksesibel sekaligus menyenangkan.
Baca juga: Momen Unik! Dosen Wajibkan Mahasiswa yang Telat Bikin Pantun, Kelas Auto Pecah!
Melipat kertas mungkin terdengar biasa aja, tapi di tangan Erik Demaine, setiap lipatan adalah instruksi desain yang mampu memecahkan masalah nyata.
Nah menurut kamu, lipatan kayak gimana yang bisa kamu tiru nih?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@chronicle5