Kisah Perjalanan Waitatiri Penulis The Missing Colors: Dari Korban Bullying Jadi Alumni UI dan Harvard
INDOZONE.ID - Bagi sebagian orang pengalaman pahit bakal jadi penghambat, tapi ada juga yang justru menjadikan itu sebagai bahan bakar untuk terus melaju ke depan.
Itulah jalur yang ditempuh Waitatiri, alumni Universitas Indonesia (UI) dan Harvard University. Masa kecil Waitatiri pernah diwarnai perundungan, tetapi ia membalik luka tersebut jadi karya The Missing Colors.
Baca juga: Kisah Dr. Nadhira Nuraini Afifa, Dari Depok ke Podium Wisuda Harvard
Buku anak karyanya, The Missing Colors, kini resmi tercantum sebagai sumber belajar di situs REACH Harvard Graduate School of Education dan digunakan sebagai bahan ajar di Amerika Serikat (AS).
Karya The Missing Colors
Kisahnya sederhana, tapi kuat. Seorang anak bernama Putra merasa “abu-abu” di tengah dunia yang penuh warna. Metafora untuk perasaan terasing setelah mengalami perundungan.
Narasi ini dirakit Waitatiri tidak sekadar untuk menghibur, melainkan memantik percakapan tentang belonging, empati, dan cara sekolah merawat emosi anak.
Pada laman REACH HGSE, The Missing Colors disertai panduan kurikulum untuk pendidik K-3, menegaskan fungsi gandanya karya sastra dan perangkat pedagogi.
Perjalanan Waitatiri berawal dari pengalaman personal menuju ekosistem pendidikan global, lalu menyusun cerita, membawanya ke ruang akademik, dan diadopsi sebagai materi ajar di Harvard dan beberapa sekolah di AS.
Terbitnya buku ini merupakan bentuk pengakuan pada kapasitas kreatif seorang penulis muda Indonesia, sekaligus penegas suara lokal tentang bullying punya resonansi universal.
Kisah dari UI ke Harvard
Di balik buku yang menyentuh, ada fondasi akademik rapi. Waitatiri berangkat dari Universitas Indonesia, lalu menembus beasiswa LPDP untuk studi di Harvard bidang Learning Design, Information, and Technology.
Rute ini memberi landasan teoritis dan metodologis, untuk mengolah pengalaman menjadi intervensi pembelajaran. Ia gak hanya menulis cerita, tapi mendesain pengalaman belajar yang dapat dioperasikan guru di kelas.
Berbagai kanal publik menautkan karya itu sebagai “teaching resource” yang sah dan menunjukkan jejak dari tugas kuliah ke materi ajar yang terdokumentasi.
Dari Buku ke Ekosistem Belajar
Momentum The Missing Colors mendorong inisiatif yang lebih terstruktur, membangun solusi edutech yang menaruh empati sebagai inti.
Jejak daring menampilkan perluasan karya Waitatiri dalam bentuk platform dan materi yang menumbuhkan literasi numerasi, keberanian mencoba, serta rasa aman untuk menjadi berbeda.
Kisah Waitatiri mengingatkan kalau pengalaman buruk gak selamanya jadi penghambat, malahan bisa jadi bahan bakar buat terus melangkah maju.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@kamusmahasiswa