INDOZONE.ID - Saat ada organisasi atau aktivitas kampus, pernah nggak kamu ngerasa salah ambil keputusan dan pada akhirnya nyesel serta dihantui rasa bersalah? Keputusan yang muncul akibat overthinking atau karena impulsif ternyata bisa dicegah, lho.
Nah, ternyata skill bawaan seorang pengambil keputusan bisa diasah layaknya CEO atau ilmuwan. Yuk ikuti 'peta otak' ini buat bantu kamu jadi karakter yang tegas dan tepat dalam mengambil keputusan cerdas!
Ibarat roadmap, mental model adalah proses pemetaan cara berpikir yang bisa bantu arahkan pikiranmu supaya nggak tersesat dan nggak bias terhadap apa yang kamu percayai.
Asah 5 Mental Model Ini Biar Keputusanmu Setajam CEO
1. Availability Heuristic
Kemampuan menilai probability atau kemungkinan sesuatu terjadi seringkali didasari oleh hal yang paling mudah diingat. Misal, setelah dengar berita pencurian di kos, kamu langsung parno di kos sendiri.
Baca juga: 7 Skill Digital Wajib Dikuasai Mahasiswa Biar Gak Ketinggalan Zaman
Padahal datanya belum tentu seburuk itu. Jadi, sebelum panik atau bereaksi berlebihan, coba lihat dan simak data yang lebih luas dulu.
2. Occam’s Razor
Kalau ada dua penjelasan yang sama-sama masuk akal, pilih yang paling sederhana. Kadang solusi simpel justru paling efektif, seperti cek kuota internet dulu sebelum nyalahin HP lemot, atau cek bensin dulu sebelum menyalahkan motor dan bongkar mesin.
Karena teori yang lebih simpel justru punya 'explanatory power' yang lebih besar.
Baca juga: Ketua Organisasi Bukan Jaminan Personal Branding, Ini 4 Hal yang Harus Diperhatikan!
3. Inversion Thinking
Dikutip dari Carl G. J. Jacobi, seorang matematikawan Jerman: daripada cuma mikirin gimana cara sukses, coba pikir juga gimana supaya nggak gagal. Misalnya: “Gimana caranya biar nggak males belajar?” bukan “Gimana biar rajin?”.
Cara ini bikin kamu sadar sama blind spot-mu atau faktor distraksi yang nggak pernah terbesit di pikiran, misal punya kebiasaan makan sebelum belajar yang justru bikin ngantuk.
4. Confirmation Bias
Siapa yang sering cari validasi kalau lagi ngerasa benar? Kecenderungan mencari info yang bikin kita merasa benar itu termasuk konfirmasi yang bias.
Misal, pas nyusun skripsi cuma pilih teori yang mendukung hipotesis sendiri, padahal kalau kamu ulik sedikit lagi, kamu bisa nemu sanggahannya.
Baca juga: Belajar Jadi Ninja AI: Nasihat Seru Hadapi Kemajuan AI dari CEO Google DeepMind
Mulai sekarang, tantang pikiranmu: “Ada nggak data yang justru ngebantah pendapatku?” Ini akan membantumu menemukan keputusan yang tepat berdasarkan data lengkap, bukan sekadar cari yang sesuai keinginanmu.
5. Second-Order Thinking
Nggak semua keputusan berdampak instan. Kadang efeknya baru kelihatan nanti. Howard Marks, seorang investor legendaris, menerapkan second-order thinking dalam investasinya.
Contohnya, ambil kerja paruh waktu mungkin mengurangi waktu istirahat, tapi bisa menambah pengalaman yang berguna buat karier nanti.
Baca juga: Diremehin? Ini Dia Tips Stoik untuk Anak Kampus yang Mau Tahan Banting
Saat kamu ngerasa efek pertama, yaitu lelah dan kurang waktu, coba pikirkan efek lanjutannya, apakah pengalaman itu bakal jadi landasan yang membantumu dapat peluang yang lebih besar di masa depan?
Jadi, sebelum ambil keputusan besar atau kecil, coba latih lima cara berpikir ini. Siapa tahu, dengan mental model yang tepat, kamu bisa mikir setajam CEO, mendapatkan lebih banyak pengalaman, dan jadi pengambil keputusan yang handal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@ton_inmotion