Rabu, 29 OKTOBER 2025 • 13:40 WIB

Kisah Diego Romero, Berhasil Masuk Stanford Berkat Gabungkan Seni, Sains, dan Sourdough

Author

Mahasiswa Stanford, Diego Romero (news.stanford.edu)

INDOZONE.ID - Kisah yang unik dan menginspirasi datang dari Diego Romero, yang berhasil masuk Stanford berkat bantuan sourdough.

Mahasiswa tahun kedua ini terampil menggabungkan seni dan sains dalam kegiatannya. Mulai dari menyempurnakan sourdough hingga merekayasa papan sirkuit. 

Baca juga: Robot Xueba 01 Jadi Mahasiswa Doktoral, Belajar Seni di Shanghai Theater Academy

Ketika pandemi, Romeo berusia 14 tahun dan karantina di Portland, Oregon. Di sana, ia menemukan buku masak berjudul “Tartine Bread” di dapur keluarganya.

Empat tahun kemudian, ia menghabiskan banyak waktu untuk menyempurnakan kulit roti berwarna cokelat keemasan itu.

Hal tersebut membuatnya memilih opsi "Buat prompt Anda sendiri" untuk esai pendaftaran kuliahnya, dan menulis, “Apakah membuat roti itu seni atau sains?” 

Baca juga: Peneliti Unair Raih Travel Award di Glow 2025, Bukti Perempuan Indonesia Bisa Bersaing di Dunia Material Sains

Menggabungkan Seni dan Sains Lewat Sourdough

"Perubahan bagi saya, dari membuat roti yang enak menjadi roti yang luar biasa—terjadi ketika saya menyimpan buku resep itu," ungkap Romero. 

Menurutnya, yang paling penting adalah memahami roti, dan memperhatikan adonannya. Mengikuti naluri juga membantunya merekayasa cara mendekati proses tersebut.

Bagi Romero, kreativitas yang dibutuhkan untuk menyempurnakan baguette, croissant, atau kulit pizza apapun turut memperkuat argumen bahwa memanggang adalah sebuah seni. 

Konsep yang sama berlaku pada minat akademisnya di bidang matematika dan teknik elektro.

Ia mengatakan bahwa meskipun banyak orang memandang sains keras, sebagian besar hanya berupa rumus dan perhitungan angka, seluruh proses pemecahan masalah membutuhkan banyak kreativitas. 

Baca juga: Ini Alasan Kenapa Anak Teknik Sipil Jago Bikin Bangunan 'Tahan Banting' dari Gempa

Dari Dunia Teknik ke Cita-cita Membuka Kedai Pizza 

Romero berharap dapat memanfaatkan kreativitasnya sebagai insinyur listrik untuk memecahkan masalah yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.

Ia berniat menggunakan kecintaannya pada sirkuit untuk mengatasi masalah dalam penyimpanan baterai atau jaringan listrik.

Romeo juga mengungkapkan alasannya menyukai desain papan sirkuit. Ada aspek visual menarik dalam menggambar semua jejak listrik kecil di papan, sehingga menciptakan geometri yang sempurna.

Menurutnya, sangat seru bereksperimen untuk melihat desain mana yang lebih efisien, mana yang akan menghemat beberapa sen ekstra untuk membuat papan sedikit lebih kecil. 

Baca juga: Scoutro, Motor Listrik Senyap untuk Patroli Hutan Karya Mahasiswa ITB

Namun, di balik kecerdasannya membuat roti sourdough dan merekayasa papan sirkuit, Romeo mempunyai cita-cita untuk membuka kedai pizza.

Pikirnya, memulai bisnis akan menjadi tantangan yang menyenangkan.  Ia penasaran bagaimana rasanya membangun restoran pizza yang besar dan sukses.

Ia akan melayani beberapa pelanggan di malam hari, memastikan kualitas lebih utama daripada kuantitas, dan membuat pizza terbaik di kota.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: News.stanford.edu

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU