Jumat, 07 NOVEMBER 2025 • 13:27 WIB

BEM FEMA IPB-Humanies Project Hadirkan Kolaborasi Nyata Melalui Ekpresi, Edukasi Kesehatan dan Keterampilan Hidup bagi ODGJ

Author

Banyak ODGJ yang tidak hanya berjuang melawan kondisi psikologis mereka, tetapi juga menghadapi tekanan sosial dan stigma yang mengasingkan. (Dok. Istimewa)

INDOZONE.ID - Kesehatan mental masih menjadi isu sosial yang sering kali terpinggirkan di tengah masyarakat. Banyak Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang tidak hanya berjuang melawan kondisi psikologis mereka, tetapi juga menghadapi tekanan sosial dan stigma yang mengasingkan.

Padahal, penyebab gangguan jiwa tidak sesederhana persoalan medis; faktor lingkungan, pengalaman hidup, dan penerimaan sosial turut berperan besar.

Sebagian besar ODGJ yang kini tinggal di Yayasan Bina Tauhid Darul Miftahuddin datang dari latar belakang kehidupan yang penuh ujian. Beberapa di antaranya mengalami kondisi broken home, ada yang ditelantarkan keluarga, dan tak sedikit yang kehilangan arah setelah tidak diterima di lingkungan asalnya.

Di balik kondisi mereka, tersimpan kisah panjang tentang kehilangan, kesepian, dan perjuangan untuk kembali pulih. Kondisi di yayasan ini juga menghadirkan tantangan tersendiri.

Baca juga: Bangga! Duta Kampus Unpas Jadi Putra Budaya Indonesia Berkat Program Aksara Sunda

Sebagian pasien masih hidup dalam sanitasi yang terbatas, dengan beberapa di antaranya menderita penyakit kulit akibat kurangnya kebersihan dan minimnya fasilitas mandi. Keseharian mereka diwarnai ketidakstabilan emosional, tetapi juga harapan untuk tetap bisa menjalani hidup dengan cara yang lebih sehat dan bermakna.

Melihat realitas tersebut, Departemen Sosial dan Pengembangan Masyarakat BEM FEMA IPB University bersama Humanies Project berkolaborasi merancang program “Sahabat Jiwa” dengan tema besar “Unity in Empathy & Strength in Collaboration.”

Program ini berlangsung selama tiga minggu, sejak 18 Oktober hingga 1 November 2025, dan berfokus pada peningkatan kesejahteraan mental, fisik, serta sosial bagi para teman istimewa di Yayasan Bina Tauhid Darul Miftahuddin.

Melalui pendekatan berbasis keilmuan dan kemanusiaan, Sahabat Jiwa hadir sebagai ruang kolaborasi antara mahasiswa, tenaga kesehatan, dan masyarakat untuk mendukung proses pemulihan para ODGJ.

Baca juga: Dinilai Sudah Terlalu Melenceng dari 'Jati Diri' Kampus, UI Diminta Kembali Fokus ke Akademik

Day 1 - Ekspresi Jiwa dalam Kata dan Warna (18 Oktober 2025)

Kegiatan pertama berfokus pada pengelolaan emosi melalui media seni dan tulisan. Para peserta diajak menulis perasaan mereka dalam bentuk journaling serta melukis di atas kaos putih sebagai media ekspresi diri. Tulisan dan warna menjadi jembatan bagi mereka untuk melepaskan beban emosional yang selama ini tertahan.

“Saya seneng kak bisa nulis hari ini. Biasanya aku juga nulis di buku buat nulisin cerita perjalanan hidupku sebagai anak broken home,” ujar Adam Malik salah satu teman istimewa yang ada di sana.

Bagi mereka, kegiatan sederhana seperti menulis dan melukis menjadi bentuk terapi yang menenangkan. Setiap goresan warna pada kaos putih melambangkan perjalanan emosi dari sedih, tenang, hingga bahagia. Latar belakang dan perjalanan hidup juga dicurahkan melalui lukisan di kaos putih.

Day 2 - Hidup Sehat untuk Jiwa Bahagia (25 Oktober 2025)

Kegiatan hari kedua difokuskan pada penerapan pola hidup bersih dan sehat. Pagi hari dimulai dengan senam bersama untuk membangkitkan semangat, dilanjutkan dengan demonstrasi cuci tangan sehat dan edukasi “Isi Piringku.”

Para peserta belajar pentingnya menjaga kebersihan tubuh dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Melalui praktik langsung, mereka diajarkan langkah-langkah mencuci tangan dengan benar serta diajak menikmati menu sehat bersama sesuai konsep gizi seimbang.

“Tadi senam, terus cuci tangan, makan bareng. Enak... rasanya kayak makan di rumah, jarang jarang kak kita makan lengkap, biasanya cuma makan kangkung sama nasi,” tutur Ibu Isah seorang teman istimewa.

Kegiatan hari kedua juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mendekatkan diri dengan para peserta. Tidak hanya memberi materi, tetapi juga mendengarkan cerita mereka dengan penuh empati.

Day 3 - Tunas Harapan dari Media Air (1 November 2025)

Kegiatan penutup difokuskan pada pengenalan teknik hidroponik sederhana menggunakan galon bekas. Melalui kegiatan ini, peserta belajar cara menanam sayuran dengan media air sekaligus memperkenalkan konsep ramah lingkungan dengan memanfaatkan barang bekas.

Peserta diajak menanam, menyiram, dan merawat tanaman secara langsung. Selain mengajarkan keterampilan baru, kegiatan ini juga diharapkan dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kebahagiaan melalui aktivitas merawat kehidupan.

“Neng semoga bisa tumbuh ya, gak gagal, nanti bisa tumbuh jadi bisa makan macem macem sayur buat dimasak,” ucap Ibu Handayani salah satu teman istimewa sambil memegang hasil hidroponiknya.

Bagi para peserta, menanam menjadi simbol harapan baru bahwa mereka pun mampu menciptakan kehidupan yang bermanfaat, meski dimulai dari hal kecil.

Kesan, Harapan, dan Langkah ke Depan

Selama tiga hari pelaksanaan Sahabat Jiwa, suasana hangat dan penuh empati selalu terasa. Mahasiswa hadir bukan sekadar untuk mengajar, tetapi juga untuk menemani, mendengarkan, dan belajar dari teman-teman istimewa yang memiliki cara berpikir dan mengekspresikan diri yang unik.

“Dari mereka, kami belajar arti ketulusan dan kesabaran. Setiap senyum yang mereka berikan adalah pengingat bahwa kebaikan kecil bisa membawa dampak besar,” ujar salah satu mahasiswa pendamping.

Ketua Departemen Sosial dan Pengembangan Masyarakat BEM FEMA IPB menambahkan, “Melalui Sahabat Jiwa, kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai program, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan untuk mendukung kesejahteraan mental masyarakat.”

Kegiatan ini juga meninggalkan pesan mendalam bagi mahasiswa bahwa setiap individu, tanpa memandang kondisi mentalnya, berhak untuk didengar, dirangkul, dan diberdayakan.

Harapan untuk Pemerintah dan Masyarakat

Program Sahabat Jiwa menunjukkan bahwa perhatian terhadap ODGJ tidak bisa hanya diserahkan kepada yayasan sosial, tetapi perlu dukungan lintas sektor. Harapannya, pemerintah daerah dan Dinas Sosial dapat lebih aktif dalam memberikan dukungan kesehatan, pemenuhan gizi, serta pelatihan keterampilan bagi ODGJ agar mereka dapat kembali berdaya di masyarakat.

Dengan semangat “Unity in Empathy & Strength in Collaboration,” Sahabat Jiwa menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi dan empati dapat menyatukan manusia dalam kemanusiaan yang sejati.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
Tags
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU