Sabtu, 03 JANUARI 2026 • 18:14 WIB

Inovasi Osmoinc Mahasiswa ITS Pangkas Waktu Produksi Teluar Asin dari 14 Hari Jadi 5 Jam!

Author

Tim Osmoinc ITS usai menyelesaikan uji coba bersama calon pengguna untuk fiksasi alat pembuat telur asin (its.ac.id)

INDOZONE.ID - Tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karya Inovatif (PKM-KI) berhasil menciptakan sebuah inovasi untuk industri pangan

Inovasi tersebut adalah alat bernama Osmoinc (Osmotic Manipulation and Near Infrared Controlled), yang menjadi solusi untuk para pengusaha telur asin agar dapat memproduksi telur lebih cepat dan tetap menjaga standar rasa yang seragam.

Baca juga: UNS Dorong Industri Tekstil Bantul Lebih Hijau Melalui Teknik Ecoprint

Ketua Tim Osmoinc, Achmad Mahendra, menjelaskan bahwa ide ini muncul dari kegelisahan melihat cara lama yang digunakan pelaku UMKM, yakni mencampur garam dengan tanah liat.

“Proses selama 10 hingga 14 hari bukan waktu yang singkat untuk memenuhi kebutuhan ekspor dari negara lain,” ucap Achmad.

Proses tradisional dinilai cukup menyulitkan produsen dalam memenuhi permintaan pasar, terutama untuk kebutuhan ekspor yang terus meningkat.

Hadirnya alat Osmoinc tak hanya berguna untuk menghasilkan telur asin dengan tekstur "masir" yang sempurna, tetapi juga dapat meningkatkan standar kebersihan. 

Baca juga: UAI Hadirkan Festival Budaya: Pakaian Tradisional Indonesia Warnai Pawai Penuh Keindahan

Teknologi Sensor dan Cara Kerja Secara teknis, Osmoinc bekerja dengan memanipulasi tekanan osmosis pada saat proses penggaraman.

Keunggulan utama alat ini adalah penggunaan sensor Near Infrared (NIR) yang mampu menganalisis perbedaan kadar garam di dalam dan di luar telur secara akurat tanpa harus merusak telur tersebut (non-destructive).

Proses pembuatan telur asin dengan mesin ini hanya membutuhkan waktu sekitar lima jam untuk kapasitas 150 butir telur.

Mesin dengan dimensi sekitar 53 x 56 x 50 sentimeter dibuat menggunakan material berkualitas seperti Galvanis dan SS316 dengan kebutuhan daya listrik sebesar 1.650 watt.

Salah satu anggota Tim Osmoinc ITS saat merakit komponen penting pada alat pembuat telur asin (its.ac.id)

Baca juga: Peneliti Unair Raih Travel Award di Glow 2025, Bukti Perempuan Indonesia Bisa Bersaing di Dunia Material Sains

Ada empat tahapan utama dalam penggunaan Osmoinc, yaitu perendaman telur dalam asam asetat 15 persen selama lima menit, kemudian telur dibilas dengan air bersih setelah asam asetat dikeluarkan.

Selanjutnya, telur harus direbus dalam larutan garam (NaCl 30 persen) pada suhu 70 derajat Celsius selama empat jam, dan tahap terakhir adalah memastikan tingkat kemasiran telur menggunakan sensor NIR.

Manfaat dan Prestasi Penggunaan Osmoinc memberikan dampak positif pada kualitas produk, di mana penetrasi garam menjadi lebih efektif dan daya simpan telur menjadi lebih lama.

Selain itu, teknologi ini mampu menekan pertumbuhan kuman pada telur sehingga jauh lebih higienis.

Baca juga: Kerja Nyata Berbuah Prestasi! Layanan Keprotokolan UGM Raih Penghargaan di Kategori PTNBH

“Telur asin yang semula cepat tumbuh mikroba, ketika menggunakan Osmoinc akan mengurangi kembangbiaknya,” jelas Achmad.

Inovasi Osmoinc juga berhasil mengantarkan tim mahasiswa Departemen Teknik Kimia Industri tersebut meraih gelar juara pada ajang Pimnas 2025 di Universitas Hasanuddin, Makassar.

Dengan adanya Osmoinc, diharapkan mahasiswa dapat terus terpacu untuk menciptakan teknologi yang berdampak luas bagi masyarakat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Its.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU