INDOZONE.ID - Kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Institut Teknologi Sumatera (Itera) membuat solusi bagi warga Desa Srikaton, Kecamatan Adiluwih, Kabupaten Pringsewu.
Mereka mengolah limbah tongkol jagung yang selama ini kurang dimanfaatkan warga menjadi briket yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif.
Baca juga: 5 Kampus Terbaik di Asia Tenggara, Alternatif Pilihan Kuliah Luar Negeri Dekat Rumah
Program tersebut tidak hanya bertujuan untuk membersihkan lingkungan dari sampah pertanian, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pedesaan.
Ketua Kelompok KKN 11, Armando Andika Putra Silaban, mengungkapkan bahwa pemanfaatan limbah jagung dilakukan melalui pendekatan teknologi material sederhana agar mudah direplikasi masyarakat.
“Tongkol jagung bukan sekadar limbah, tetapi bisa menjadi sumber energi alternatif jika diolah dengan teknologi yang tepat,” ucapnya.
Dengan teknologi material ini, tongkol jagung yang tadinya dianggap sampah bisa berubah menjadi produk bernilai jual tinggi dan menjadi sumber energi mandiri bagi warga.
Baca juga: Mandiri di Semester 7, Mahasiswa UMM Ini Berani Wujudkan Apotek Impiannya
Selain fokus pada briket, para mahasiswa memperkenalkan cara pembuatan pupuk organik cair (POC) dari sampah dapur untuk mendorong pola hidup ramah lingkungan.
Guna membantu perencanaan pembangunan desa, tim Itera juga menyusun Peta Potensi dan Tutupan Lahan Desa Srikaton.
Peta berbasis data dirancang untuk memudahkan perangkat desa dalam memetakan serta mengelola sumber daya alam mereka secara lebih akurat dan tepat sasaran.
Di sisi lain, aspek pendidikan dan pengembangan bakat juga menjadi prioritas selama masa KKN.
Baca juga: Tingkatkan K3 UMKM Kayu, Mahasiswa KKN Undip Hadirkan Buku Saku dan Safety Sticker
Mahasiswa secara aktif membantu mengajar di sekolah-sekolah dasar serta mengadakan kegiatan Campus Expo di SMAN 1 Adiluwih.
Tujuannya untuk memberikan motivasi bagi siswa-siswi lokal agar bersemangat melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
Sebagai ajang pengembangan karakter, mereka juga menggelar turnamen bulu tangkis tingkat SD se-Provinsi Lampung.
Fajar Nugli Hendrawan, selaku ketua pelaksana, mengungkapkan bahwa turnamen tersebut diikuti oleh 60 tim dari berbagai daerah.
Baca juga: Belajar Saja Tidak Cukup! Mengapa Peserta yang Rajin Tetap Bisa Gagal di SNBT?
“Antusiasme peserta menunjukkan bahwa Desa Srikaton berpotensi menjadi wadah pengembangan bakat olahraga bagi generasi muda di Pringsewu,” ujarnya.
Melalui kolaborasi antara ilmu pengetahuan akademik dan aksi nyata di lapangan, diharapkan masyarakat Desa Srikaton dapat menjadi lebih mandiri, sejahtera, dan memiliki kualitas sumber daya manusia yang lebih unggul di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Itera.ac.id