Minggu, 15 MARET 2026 • 17:20 WIB

Dosen FEB UGM Ciptakan Westa, Aplikasi AI yang Bisa Kenali Jenis Sampah Lewat Kamera HP

Author

Aplikasi Westa yang dikembangkan oleh dosen FEB UGM. (feb.ugm.ac.id)

INDOZONE.ID - Hingga saat ini, Indonesia masih terus bergelut dengan masalah sampah yang tak kunjung usai. Isunya bukan hanya soal jumlah sampah yang makin menumpuk, tapi juga cara pengelolaannya yang dianggap masih belum maksimal.

Melihat kemajuan teknologi digital yang begitu cepat, banyak pihak mulai mencari cara baru untuk membereskan masalah ini, termasuk dengan memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI.

Menanggapi tantangan tersebut, Luluk Lusiantoro, seorang dosen dari Departemen Manajemen FEB UGM, bersama tim penelitinya menciptakan sebuah aplikasi pintar bernama Westa. Aplikasi ini dibuat khusus untuk mempermudah urusan pengelolaan sampah agar lebih rapi, efisien, dan terpantau lewat data yang akurat.

Ia mengungkapkan bahwa ide menciptakan Westa lahir dari rasa prihatinnya melihat sistem pengelolaan sampah di Indonesia yang menurutnya masih berantakan dan belum teratur.

Baca juga: 5 Prospek Kerja Lulusan Teknologi Pangan, Gajinya Bisa Tembus Rp15 Juta per Bulan

Selama ini proses identifikasi jenis sampah masih banyak dilakukan secara manual oleh petugas pengumpul sampah atau pengepul. Padahal, proses tersebut tidak mudah dan tidak banyak orang yang bersedia melakukannya,” ujarnya.

Aplikasi Westa memungkinkan urusan memilah sampah jadi jauh lebih simpel. Pengguna cukup memotret sampah lewat kamera HP, lalu teknologi computer vision di dalamnya akan langsung mengenali jenis sampah tersebut secara otomatis.

Hebatnya lagi, aplikasi ini juga bisa menaksir berapa berat sampah yang kita kumpulkan. Data berat ini bukan sekadar angka, karena fungsinya sangat penting untuk menghitung perkiraan emisi karbon yang dihasilkan.

Dalam pengembangannya, tim peneliti menggunakan standar dari Environmental Protection Agency sebagai acuan hitungan emisinya. Selain tahu jenis sampahnya, Westa bahkan bisa mendeteksi merek produk apa yang menyumbang limbah tersebut.

Dosen Departemen Manajemen FEB UGM, Luluk Lusiantoro, S.E., M.Sc., Ph.D. (ugm.ac.id)

Baca juga: Tingkatkan Minat Baca Sejak Dini, Mahasiswa UNAIR Gelar Edukasi Interaktif bagi Anak Yatim di Surabaya

Dengan mengidentifikasi merek produk, data sampah yang terkumpul dapat membantu menelusuri produsen yang produknya berkontribusi terhadap limbah,” tuturnya.

Fitur ini sangat berkaitan dengan prinsip Extended Producer Responsibility (EPR) dalam sistem ekonomi sirkular. Intinya, tanggung jawab sebuah perusahaan tidak selesai begitu produk laku terjual, tapi mereka juga harus ikut memikirkan nasib kemasan atau sisa produknya agar tidak merusak lingkungan.

Westa juga memiliki fitur geotagging untuk mencatat lokasi persis di mana sampah itu ditemukan. Hal ini memudahkan siapa pun untuk melihat peta persebaran sampah di berbagai titik wilayah secara lebih jelas.

Nantinya, tumpukan data dari aplikasi ini bisa jadi pegangan berharga bagi pemerintah atau pihak terkait dalam membuat aturan pengelolaan sampah yang lebih sesuai.

Baca juga: UNAND Gelar Bazar Ramadhan, 50 UMKM Ikut Ramaikan dan Bangkitkan Ekonomi Warga

Dari data tersebut, bisa terlihat merek atau produk apa saja yang paling banyak menghasilkan sampah, sehingga produsennya bisa didorong untuk lebih bertanggung jawab.

Rencananya, Westa tidak hanya ditujukan bagi organisasi tertentu saja. Ke depannya, aplikasi ini akan dikembangkan agar bisa digunakan oleh masyarakat luas untuk ikut serta menjaga lingkungan.

Westa diharapkan dapat dikembangkan hingga ke level konsumen individu. Melalui aplikasi ini, masyarakat dapat memotret sampah yang mereka hasilkan sehingga dapat melihat profil jenis sampah harian atau mingguan melalui dashboard aplikasi,” lanjutnya.

Dengan mengetahui jenis sampah yang paling sering dibuang, pengguna diharapkan bisa lebih sadar akan gaya hidup dan pola belanjanya sendiri.

Baca juga: IPB University Bagikan 5.400 Bingkisan Lebaran untuk Pegawai, Wujud Apresiasi dan Kebersamaan Kampus

Informasi ini juga bermanfaat untuk menyadari kebiasaan belanja berlebih (overconsumption), sehingga masyarakat terdorong untuk mulai mengurangi konsumsi yang kurang perlu demi menekan tumpukan sampah.

Luluk berharap Westa terus tumbuh menjadi sebuah ekosistem pengelolaan sampah melingkar (waste circular ecosystem). Harapannya, aplikasi ini bisa menjadi wadah data digital yang lengkap mengenai profil dan peta permasalahan sampah di Indonesia.

Harapannya Westa dapat menjadi one stop waste circular ecosystem yang menyediakan data mengenai jenis dan jumlah sampah, tingkat daur ulang, dan dampak karbonnya sehingga dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk mendukung pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Feb.ugm.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU