INDOZONE.ID - Muhammad Zair Baitil Atiq, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengukir cerita unik di semenanjung Iberia.
Zair, yang tengah mengikuti program pertukaran pelajar Erasmus di Universitas Minho, Portugal, harus merasakan sensasi berpuasa di negeri minoritas muslim.
Kota Braga menjadi saksi bisu perjuangan dan semangatnya menjalani ibadah di tengah lingkungan yang jauh berbeda dari Indonesia.
Baca juga: Keren! Mahasiswa UM Ubah Jerami Padi Jadi Plastik Ramah Lingkungan yang Mudah Terurai
Bagi Zair, suasana bulan suci di Portugal terasa sangat kontras dibandingkan dengan keriuhan di Indonesia.
“Di Indonesia orang-orang sangat excited menyambut Ramadhan. Kalau di sini rasanya seperti kita saja yang merayakan,” ujar Zair.
Jika di Tanah Air masyarakat menyambut Ramadhan dengan penuh antusias, di Portugal ia merasakan suasana yang lebih tenang. Sebab, umat Islam di sana hanya sekitar 1 persen dari total penduduk.
Meskipun ini merupakan pengalaman pertama baginya menjalani puasa dan merayakan Idul Fitri tanpa kehadiran keluarga, mahasiswa angkatan 2022 tersebut tetap berusaha menikmati setiap detik prosesnya.
Menariknya, durasi puasa di Portugal ternyata jauh lebih singkat dibandingkan di Indonesia, yakni hanya berlangsung sekira 12 jam saja.
Zair juga tidak merasa kesulitan untuk beribadah. Ia memanfaatkan kemudahan akses informasi yang disediakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Portugal serta situs resmi komunitas muslim setempat, untuk memantau jadwal sahur, imsak, hingga berbuka.
Baca juga: UNAND Gelar Bazar Ramadhan, 50 UMKM Ikut Ramaikan dan Bangkitkan Ekonomi Warga
Dukungan informasi digital yang digunakan sangat membantunya dalam menjaga rutinitas ibadah tetap teratur di negeri orang.
Lalu, satu hal yang membuat Zair tersentuh adalah tingginya rasa hormat yang ditunjukkan oleh rekan-rekan kuliahnya di kampus.
Meskipun berada di lingkungan yang mayoritas non-muslim, teman-temannya menunjukkan sikap toleransi yang luar biasa.
“Teman-teman di kelas sangat respect. Mereka tahu saya sedang puasa, bahkan mereka juga tahu saya tidak bisa makan babi atau minum alkohol. Jadi, kalau mengajak hangout, mereka memilih tempat yang sesuai,” tuturnya.
Kemandirian juga menjadi pelajaran berharga bagi Zair. Selama merantau, ia menjadi lebih mahir memasak untuk memastikan kehalalan makanan yang dikonsumsinya.
Ia bahkan membawa bumbu-bumbu khas Indonesia langsung dari rumah untuk mengobati rasa rindu pada kuliner nusantara.
Baca juga: Mengenal Struktur Jabatan di Kampus, dari Pimpinan Akademik hingga Organisasi Mahasiswa
Selain memasak sendiri, Zair juga sesekali mengunjungi restoran Turki favorit di dekat kampus yang menyediakan menu kebab halal serta takjil gratis bagi umat muslim untuk berbuka.
Bagi Zair, pengalaman bepuasa di Portugal bukan sekadar menjalankan kewajiban agama, melainkan perjalanan mendewasaan diri dalam memahami arti toleransi global.
Ia berpesan kepada sesama mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di luar negeri, agar tetap semangat dan menikmati setiap tantangan. Sebab, pengalaman tersebut akan memberikan pelajaran hidup yang berharga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Umm.ac.id