Kisah Inspiratif Zahwa, Mahasiswa UNY yang Hampir Tunda Kuliah Karena Ekonomi: Raih Beasiswa Bayan Peduli
INDOZONE.ID – Mimpi untuk menempuh pendidikan tinggi seringkali terbentur dengan realitas ekonomi yang sulit.
Hal inilah yang dirasakan oleh Zahwa Putri Aulia, mahasiswi program studi Pendidikan Bahasa Inggris angkatan 2024 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Sebagai anak dari keluarga dengan empat bersaudara, Zahwa menyadari bahwa orang tuanya memikul tanggung jawab finansial yang besar, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk adik-adiknya.
Baca juga: UGM Berikan Bantuan Akademik, Psikologis, Finansial kepada Mahasiswa Terdampak Bencana Sumatra
Rasa bimbang sempat menyelimuti benaknya ketika hendak melanjutkan studi ke jenjang universitas. Bahkan, sang ayah sempat memberikan saran yang sangat realistis, yaitu meminta Zahwa untuk menunda kuliah demi menjaga keseimbangan ekonomi keluarga.
Namun, secercah harapan muncul berkat dukungan emosional yang kuat dari sang ibu yang terus mendorongnya untuk tidak menyerah pada keadaan.
Zahwa bukanlah remaja yang mudah menyerah. Sejak duduk di bangku SMP hingga SMA, ia dikenal sebagai pelajar yang aktif dan kompetitif, baik dalam bidang olahraga seperti basket maupun bidang literasi.
Semangat pantang menyerahnya teruji ketika ia sempat gagal dalam seleksi Program Penghargaan Mahasiswa Berprestasi dari Pemerintah Kabupaten Wonogiri.
Namun, kegagalan tersebut tidak membuatnya berhenti, melainkan malah memicunya untuk mencari peluang lain yang bisa meringankan beban orang tuanya.
Baca juga: Apa Itu Akreditasi BAN-PT? Ini Dampaknya bagi Mahasiswa dan Karier di Masa Depan
Peluang emas akhirnya datang melalui informasi dari kerabatnya mengenai Beasiswa Bayan Peduli, sebuah program tanggung jawab sosial (CSR) dari PT Bayan Resources Tbk.
Program tersebut dirancang khusus untuk mendukung mahasiswa berprestasi agar tetap bisa kuliah tanpa terbebani masalah biaya.
Manfaat yang ditawarkan sangat komprehensif, mulai dari bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT), uang saku untuk biaya hidup, penyediaan perangkat belajar seperti laptop, hingga dana dukungan untuk riset atau skripsi.
“Saya mendapatkan informasi bahwa saudara saya lolos beasiswa tersebut di batch sebelumnya. Kemudian saya mencari informasi lebih lanjut melalui platform mereka, dan ternyata pendaftaran dibuka kembali. Menurut saya, tidak ada salahnya mencoba selagi ada kesempatan,” tutur Zahwa.
Setelah melewati serangkaian proses seleksi administratif dan wawancara yang sangat ketat, Zahwa dinyatakan lolos sebagai salah satu dari 50 penerima beasiswa pada 5 Januari 2025.
Baca juga: 4 Tips Mendapatkan Beasiswa Kuliah yang Jarang Mahasiswa Tahu
Penilaian beasiswa Bayan Peduli tidak hanya melihat satu prestasi besar saja, tetapi juga mempertimbangkan konsistensi nilai akademik serta rekam jejak peserta selama ini.
Keberhasilan meraih beasiswa tidak membuat Zahwa berpuas diri. Kini, ia aktif berorganisasi di kampus dan bahkan dipercaya menjabat sebagai Ketua Divisi D'ELIT di Himpunan Mahasiswa Departemen Bahasa Inggris (EDSA) UNY per Januari 2026.
Baginya, beasiswa yang didapat adalah amanah besar yang memotivasi dirinya untuk terus berkontribusi bagi lingkungan sekitar.
Melalui kisahnya, Zahwa berpesan kepada sesama pejuang beasiswa agar tetap percaya pada proses.
“Semua proses merupakan bagian dari perkembangan diri menuju kesuksesan di masa depan. Setiap orang memiliki jalan dan waktunya masing-masing, sehingga tetaplah percaya pada diri sendiri dan jangan takut untuk bermimpi besar,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Uny.ac.id