INDOZONE.ID - Universitas Brawijaya (UB) menggelar sosialisasi penguatan kesehatan mental mahasiswa pada 7 April 2026 di Gedung Widyaloka. Kegiatan ini bertujuan memperkuat sistem penanganan mental di lingkungan kampus agar lebih siap menghadapi berbagai persoalan yang dihadapi oleh mahasiswa.
Rektor UB, Widodo, menegaskan bahwa masalah kesehatan mental bersifat kompleks dan sering sulit dikenali sejak awal. Dampaknya pun tidak hanya dirasakan secara pribadi, tetapi juga bisa mengganggu performa akademik dan hubungan sosial antar mahasiswa.
"Mental health sifatnya banyak dan sulit dideteksi. Karena itu, diperlukan keterlibatan komunitas agar penanganannya bisa berjalan lebih baik,” tuturnya.
Wakil Rektor III, Setiawan Noerdajasakti, menambahkan bahwa tekanan akademik, keluarga, pergaulan, hingga ekonomi menjadi faktor utama yang memicu gangguan mental.
Baca juga: Belum Genap 16 Tahun, Zibran Jadi Mahasiswa Termuda Unesa Lewat SNBP 2026!
“Program ini penting karena menyangkut mental health dalam menghadapi permasalahan hidup yang beragam. Agar mental mahasiswa tidak down, penguatan ini perlu dilakukan sebagai bentuk komitmen UB,” tegasnya.
UB sendiri telah menyediakan berbagai layanan seperti e-konseling dan dukungan melalui unit layanan ULTKSP.
Pendekatan ini juga diperkuat lewat kolaborasi dosen, organisasi mahasiswa, pendekatan spiritual, hingga pemanfaatan teknologi untuk mempermudah akses bantuan.
Dari sisi program, Ulifa Rahma menjelaskan bahwa UB terus mengembangkan inisiatif kampus sehat mental, termasuk layanan hotline dan konseling yang lebih mudah dijangkau mahasiswa.
Baca juga: Mahasiswa USK Borong 2 Penghargaan di IGNITE Future Fest Lewat Inovasi SENARA Magazine
“Kami menghadirkan layanan yang mudah dijangkau agar mahasiswa memiliki ruang aman untuk menyampaikan permasalahan yang dihadapi,” ujarnya.
Sementara itu, Frilya Rachma Putri menilai masalah mental mahasiswa kini semakin kompleks karena dipicu oleh banyak faktor sekaligus.
“Mahasiswa jarang mengalami krisis karena satu sebab. Tekanan mental tumbuh dari tumpukan faktor seperti keluarga, relasi, akademik, hingga ketidaktahuan mencari bantuan,” tuturnya.
Ketua Program Indonesia Sehat Jiwa, Sofia Ambarini, juga menyoroti pentingnya penanganan menyeluruh, termasuk dukungan tenaga ahli dan layanan darurat untuk kondisi krisis.
Baca juga: Inspiratif! Ari Praneza Ahmad Sabet Juara 1 Mapres 2026 Universitas Negeri Semarang
“Penanganan kesehatan mental tidak bisa parsial, tetapi harus mencakup aspek promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif,” imbuhnya.
Dari sisi teknologi, Raden Arief Setyawan menjelaskan bahwa UB telah mengembangkan sistem seperti SIAM dan SIADO untuk memantau kondisi mahasiswa secara lebih terintegrasi dengan melibatkan dosen hingga orang tua.
“Kami juga mengembangkan pemanfaatan AI untuk merangkum hasil survei yang kemudian dikombinasikan dengan penilaian dosen dan pihak kemahasiswaan untuk analisis lebih lanjut,” paparnya.
Melalui langkah ini, UB menargetkan terciptanya ekosistem kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara mental.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Prasetya.ub.ac.id