Hadirkan Terobosan Baru, Mahasiswa UGM Kembangkan Terapi Luka Efektif dengan Biaya Lebih Terjangkau
INDOZONE.ID - Perawatan luka masih menjadi tantangan besar dalam dunia medis karena jenis luka yang beragam serta proses penyembuhannya yang kerap sulit dipastikan.
Dilansir dari laman resmi UGM, data menunjukkan sekitar 3 persen lansia mengalami luka terbuka dan memerlukan perawatan intensif, sehingga jika diestimasikan ke jumlah populasi Indonesia, data tersebut mencapai ratusan ribu kasus dan menjadi beban serius bagi sektor kesehatan.
Di sisi lain, metode Vacuum Assisted Closure (VAC) yang telah lama diandalkan di bidang medis memang terbukti efektif mempercepat penyembuhan luka, namun biaya yang tinggi membuat teknologi ini belum dapat diakses secara luas, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia.
Melihat keterbatasan tersebut, Meirizal, mahasiswa program doktor Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, menghadirkan inovasi baru berupa Reverse Aqua Pump–Vacuum Assisted Closure (RAP-VAC).
Baca juga: ITS Ciptakan Benwit, Bensin dari Sawit yang Siap Jadi Solusi Krisis Energi dan Kurangi Impor BBM
“Kebutuhan terapi luka dengan VAC cukup tinggi, tetapi akses terhadap teknologi ini masih terbatas karena biaya. Oleh karena itu, kami mengembangkan RAP-VAC sebagai alternatif yang lebih terjangkau namun tetap efektif secara klinis,” jelasnya.
RAP-VAC merupakan alternatif terapi tekanan negatif dengan biaya lebih terjangkau, tanpa mengurangi keefektifannya.
Inovasi tersebut dituangkan dalam disertasinya yang berfokus pada pengembangan metode perawatan luka dengan biaya ekonomis.
Dalam sidang terbuka promosi doktor yang digelar di Fakultas Kedokteran UGM, ia menjelaskan bahwa penelitian ini berangkat dari kebutuhan akan terapi luka yang efektif namun tetap terjangkau bagi tiap lapisan masyarakat.
Baca juga: UNJ Berangkatkan 21 Jemaah Haji 2026, Pegawai dan Rektor Turut Berangkat ke Tanah Suci
Ia menyoroti bahwa tingginya biaya VAC komersial yang ada menjadi hambatan utama.
Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, mulai April hingga Agustus 2025. Prosesnya melibatkan berbagai unit layanan, mulai dari rawat jalan, rawat inap, hingga ruang operasi di bidang ortopedi dan traumatologi.
Subjek penelitian adalah pasien dengan luka yang memerlukan tindakan rekonstruksi lanjutan, khususnya pada kasus bedah tangan dan mikro.
Dari total 26 peserta yang memenuhi kriteria awal, sebanyak 24 pasien akhirnya dianalisis. Sementara, dua lainnya dikeluarkan karena membutuhkan prosedur bedah tambahan.
Baca juga: Terinspirasi dari Nenek, Rinita Irawati Sukses Masuk Kedokteran Unila Lewat SNBP
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pembentukan jaringan granulasi pada kedua kelompok tidak berbeda secara signifikan.
Selain itu, waktu yang dibutuhkan sebelum tindakan rekonstruksi lanjutan juga relatif sama. Dari sisi kenyamanan pasien, kedua metode pun menunjukkan hasil yang sebanding.
Perbedaan mencolok justru terlihat pada aspek biaya, di mana RAP-VAC terbukti jauh lebih ekonomis dibandingkan VAC komersial.
“Terdapat perbedaan bermakna pada status infeksi luka antara pasien yang dirawat dengan RAP-VAC dan VAC komersial. Namun tidak terdapat perbedaan bermakna pada tingkat kenyamanan pasien antara penggunaan RAP-VAC dan VAC komersial. Yang lebih penting, terdapat perbedaan signifikan pada biaya perawatan, di mana RAPVAC lebih rendah dibandingkan VAC komersial,” tuturnya.
Baca juga: Terinspirasi dari Nenek, Rinita Irawati Sukses Masuk Kedokteran Unila Lewat SNBP
Menurutnya, temuan ini menegaskan bahwa RAP-VAC mampu memberikan hasil penyembuhan yang maksimal dengan biaya yang jauh lebih terjangkau.
Selain memperkaya keilmuan di bidang kedokteran, penelitian ini juga menghadirkan kontribusi nyata bagi praktik klinis, khususnya dalam pengembangan terapi bedah rekonstruksi yang lebih efisien dan inklusif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ugm.ac.id