Selasa, 14 APRIL 2026 • 14:00 WIB

Kisah Htet Htet Hlaing, Mahasiswa Asal Myanmar Kuliah di USK: Dapat Banyak Pengalaman Positif

Author

Htet Htet Hlaing, mahasiswa Program Kelas Internasional, Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (USK) (usk.ac.id)

INDOZONE.ID – Htet Htet Hlaing, mahasiswa umur 23 asal Myanmar mendapatkan pengalaman kuliah yang positif dan menyenangkan di Universitas Syiah Kuala (USK).

Htet adalah mahasiswa Program Kelas Internasional di Fakultas Hukum USK. Selama berada di Banda Aceh, ia tidak hanya mendapatkan ilmu akademis, tetapi juga merasakan kehangatan dari budaya masyarakat setempat. 

Baca juga: Mahasiswa USK Borong 2 Penghargaan di IGNITE Future Fest Lewat Inovasi SENARA Magazine

Menurutnya, sistem pembelajaran di kelas internasional sangat membantunya dalam mengikuti perkuliahan. Sebab, sebagian besar menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar utama.

“Saya merasa sangat terbantu karena para dosen selalu bersedia memberikan bimbingan dan membantu saya memahami materi,” ungkap Htet.

Walaupun sempat merasa kesulitan saat ada mata kuliah yang disampaikan dalam Bahasa Indonesia, Htet mampu beradaptasi dengan cepat seiring berjalannya waktu.

Ia juga memberikan apresiasi tinggi terhadap sikap para dosen di USK yang sangat terbuka, ramah, dan selalu siap memberikan dukungan penuh kepada mahasiswanya.

Menurutnya, para dosen tidak hanya sekadar mengajar, tetapi juga memotivasi mahasiswa untuk berani bertanya dan berdiskusi jika menemui hambatan dalam belajar.

Baca juga: Mahasiswa Tel-U Bikin PANDAI NeuroLearn 2.0, Platform AI yang Diklaim Bikin Belajar 2x Lebih Cepat

Di luar urusan akademik, Htet merasa kehidupan kampus di USK sangat dinamis dan memberikan banyak ruang bagi mahasiswa untuk berkembang.

Lingkungan kampus yang inklusif ini, membuatnya dapat menjalin relasi luas dengan teman-teman dari berbagai fakultas dan latar belakang.

Pengalaman menarik lainnya didapatkan Htet dari interaksi sosial dengan warga Banda Aceh. Ia sangat terkesan dengan kebanggaan masyarakat Aceh terhadap identitas budaya dan bahasa daerah mereka.

“Bahkan dalam percakapan sederhana, seperti saat menggunakan transportasi online, saya sering diajarkan beberapa kata dalam bahasa Aceh. Hal itu terasa sangat hangat dan menyenangkan,” tuturnya.

Meskipun kota Banda Aceh dikenal dengan nilai-nilai Islam yang kuat, Htet melihat hal tersebut sebagai kesempatan berharga untuk saling bertukar pengalaman dan memahami perbedaan budaya. 

Baca juga: Lebaran dan Potensi Lonjakan Sampah Makanan, Dosen IPB University: Budaya Konsumsi Kita Perlu Dibenahi

Baginya, rasa ingin tahu warga lokal terhadap kehadirannya justru menjadi pembuka ruang dialog yang hangat dan penuh rasa hormat.

Selain itu, keindahan alam di sekitar Banda Aceh bisa menjadi obat penat di tengah kesibukan studinya.

Menikmati pemandangan matahari terbenam di pantai dan melihat lanskap pegunungan yang asri memberikan ketenangan tersendiri bagi Htet.

Kisahnya menunjukkan bahwa USK berhasil menciptakan lingkungan pendidikan yang berkualitas tinggi sekaligus inklusif bagi mahasiswa mancanegara.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Usk.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU