INDOZONE.ID - IPB University menggelar sebuah inisiatif bersama Rumah Kreasi Anak Spesial (RKAS) untuk anak-anak berkebutuhan khusus.
Sebanyak 16 anak penyandang down syndrome, didampingi oleh orang tua serta wali mereka, mengikuti kegiatan edukasi inklusif bertajuk, “Belajar dan Bersahabat dengan Alam”.
Baca juga: Daftar Prodi Baru IPB 2026, Cocok Buat Kamu yang Ingin Dalami Rumpun Ilmu Sosial
Acara ini diselenggarakan di kawasan hijau Kampus Dramaga sebagai bentuk pengabdian masyarakat dari civitas akademika IPB University.
Kegiatan tersebut dirancang khusus untuk memberikan pengalaman belajar yang otentik dan mendalam kepada para peserta.
Fokus utamanya adalah menggabungkan eksplorasi lingkungan terbuka dengan interaksi langsung bersama satwa dan pengenalan ekosistem secara menyeluruh.
Prof Anik Djuraidah, Penasihat RKAS, menjelaskan bahwa metode pembelajaran berbasis alam memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan anak-anak spesial.
“Pendekatan ini mampu memberikan stimulasi yang lebih komprehensif, baik dari aspek sensorik, sosial, maupun emosional anak,” ungkapnya.
Salah satu agenda utama dalam rangkaian tersebut adalah kunjungan ke Taman Hutan Kampus. Di lokasi ini, anak-anak diajak mengenal keanekaragaman flora dan fauna yang ada di lingkungan kampus.
Baca juga: Hore! Sebanyak 4.095 Kampus Bakal Dapat Fasilitas Internet Gratis Tanpa Kuota
Keceriaan terpancar saat mereka berinteraksi dengan rusa dan memberinya makan secara langsung.
Pihak penyelenggara juga sangat memperhatikan aspek keselamatan selama kegiatan. Dr Lina Noviyanti Sutardi memastikan bahwa keamanan dan kenyamanan peserta adalah prioritas utama agar proses belajar tidak terhambat oleh rasa takut.
Aktivitas tersebut tidak hanya menyenangkan, tetapi juga efektif untuk memicu keberanian serta rasa ingin tahu peserta.
Perjalanan edukatif berlanjut ke Divisi Produksi Ternak Daging Kerja dan Aneka Ternak. Di sana, para peserta diperkenalkan dengan hewan ternak seperti sapi dan domba.
Melalui pengenalan lingkungan peternakan secara kontekstual, anak-anak belajar mengenai cara merawat hewan dengan memberi mereka makan.
Sekretaris Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE), Dr Eva Rachmawati, menyebutkan bahwa kampus IPB memang didorong untuk menjadi ruang edukasi yang terbuka.
Baca juga: Dosen UNJ Edukasi Lansia soal Kebugaran, dari Pola Makan hingga Terapi Berkebun
“Kegiatan ini sejalan dengan pemanfaatan kawasan kampus sebagai ruang edukasi terbuka yang inklusif dan bermanfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Terakhir, rombongan mengunjungi Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP) SKHB IPB. Di bawah bimbingan para ahli medis hewan, anak-anak belajar bagaimana cara memperlakukan hewan dengan kasih sayang namun tetap aman.
Mereka juga diperlihatkan berbagai fasilitas serta peralatan medis modern yang digunakan untuk merawat satwa.
Melalui program ini, RKAS berharap model pendidikan inklusif yang melibatkan pengalaman langsung dapat terus dikembangkan demi membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi anak berkebutuhan khusus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ipb.ac.id