Kamis, 04 JUNI 2026 • 17:06 WIB

Bantu Pasien Lupus, Tim Kesehatan Masyarakat UI Bawa Pulang Juara di CIMSAThon 2026

Author

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), Rebecca Renaning Pertiwi, Shesy Budiyawati, dan Lyandra Syahsabila Adhi, berhasil meraih Juara 3 dalam ajang CIMSAThon 2026. (fkm.ui.ac.id)
INDOZONE.ID - Sebanyak tiga mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), yakni Rebecca Renaning Pertiwi, Shesy Budiyawati, dan Lyandra Syahsabila Adhi, meraih Juara 3 dalam kompetisi nasional CIMSAThon 2026. 

Penghargaan tersebut diraih berkat pengembangan sistem informasi Personal Health Record (PHR) terintegrasi yang ditujukan untuk mendukung pengelolaan kesehatan Orang dengan Lupus (Odapus).

Kompetisi yang diselenggarakan oleh CIMSA Indonesia tersebut, mengusung tema “Merancang Solusi Digital untuk Sistem Kesehatan Indonesia”.

Ajang ini hadir untuk menantang mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk menciptakan inovasi berbasis teknologi, yang mampu menjawab berbagai persoalan dalam sistem layanan kesehatan di level nasional.

Baca juga: Mahasiswa Vokasi UI Ciptakan Nutri-Chain, Solusi Digital Atasi Stunting dan Food Waste

Dalam kompetisi tersebut, mereka memperkenalkan konsep Personal Health Record yang terintegrasi dengan Clinical Decision Support System (CDSS).

Sistem tersebut dirancang untuk membantu tenaga kesehatan dalam mengambil keputusan klinis, memudahkan pasien mengakses riwayat kesehatannya, serta mendukung upaya advokasi yang dilakukan Yayasan Lupus Indonesia.

Rebecca menjelaskan, bahwa ide pengembangan sistem tersebut muncul dari persoalan yang masih sering dihadapi pasien dalam mengelola data kesehatannya.

Saat ini, berbagai informasi medis seperti hasil laboratorium, pemeriksaan radiologi, hingga catatan rawat jalan sering kali tersimpan secara terpisah dalam berbagai dokumen, sehingga tidak efisien untuk mengakses dan memantau riwayat kesehatannya secara menyeluruh.

Baca juga: Mahasiswa ITB Juara Kompetisi Internasional Petrolida 2026, Usung Inovasi Migas Rendah Karbon

Padahal, bagi penderita penyakit kronis, seperti diabetes, penyakit autoimun, maupun Lupus Sistemik Eritematosus (SLE), kesinambungan perawatan menjadi aspek yang sangat penting.

Melalui sistem yang dirancang, tim berharap pasien dapat memiliki akses lebih mudah terhadap data kesehatan pribadi sekaligus memperoleh layanan yang lebih terintegrasi.

Perjalanan menuju podium juara tidak sepenuhnya berjalan mulus. Tim harus bersaing dengan peserta dari berbagai latar belakang disiplin ilmu, termasuk mahasiswa kedokteran dan teknologi informasi yang memiliki keunggulan di bidang masing-masing.

Rebecca mengakui bahwa timnya sempat menghadapi tantangan karena tidak memiliki pemahaman klinis sedalam peserta dari Kedokteran dan kemampuan teknis pengembangan prototipe, seperti yang dimiliki mahasiswa Ilmu Komputer.

Baca juga: Dua Hari Produksi, Mahasiswi Unila Sabet Juara 3 Kompetisi Video Kreatif Internasional

Tantangan lain muncul saat sesi presentasi di hadapan dewan juri. Lyandra mengaku bahwa setiap tim hanya diberikan waktu tujuh menit untuk memaparkan gagasan yang mereka bawa.

Di kompetisi ini, waktu presentasinya hanya tujuh menit. Jadi kami harus memastikan inovasi yang dibawa bisa tersampaikan dengan baik, jelas, dan tetap menarik dalam waktu yang singkat,” ungkapnya.

Prestasi yang mereka raih ini, menunjukkan pendekatan kesehatan masyarakat memiliki peran penting dalam pengembangan teknologi berbasis kesehatan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Fkm.ui.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU